images

Kritik Sastra Feminis

Kritik Sastra Feminisme; Pengertian dan Sejarah

Culler (dalam Sugihastuti, 2010: 5) menyebutkan kritik sastra feminis (KFS) sebagai reading as woman. Yoder (1987) menyebut bahwa kritik sastra feminis itu bukan berarti pengritik perempuan, atau kritik tentang perempuan, atau kritik tentang pengarang perempuan.

Arti sederhana dari kritik sastra feminis adalah pengkritik memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan busaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang-mengarang. Kritik sastra feminis adalah alasan yang kuat untuk menyatukan  pendirian bahwa seorang perempuan dapat membaca sebagai perempuan, mengarang sebagai perempuan, dan menafsirkan karya sastra sebagai perempuan.

 

Weedon (1987) menjelaskan tentang faham feminis dan teorinya, bahwa faham feminis adalah politik, sebuah politik langsung mengubah hubungan kekuatan antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Kekuatan ini mencakup semua struktur kehidupan, segi-segi kehidupan, keluarga, pendidikan, kebudayaan, dan kekuasaan. (Sugihastuti, 2010: 5 – 7)

 

Faham feminis lahir dan mulai berkobar sekitar akhir 1960-an di Barat, dengan berbagai faktor mempengaruhinya. Kritik feminis dikembangkan sebagai bagian dari gerakan perempuan internasional.

 

Menurut Kolodny (dalam Djajanegara, 2000: 20), mereka yang menekuni bidang sastra pasti menyadari bahwa biasanya karya sastra, yang pada umumnya hasil tulisan laki-laki, menampilkan stereotipe wanita sebagai istri dan ibu yang setia dan berbakti, wanita manja, pelacur dan wanita dominan.

 

Dalam karya sastra, perempuan adalah “obyek” erotik bagi laki-laki. Terlebih jika sastrawan adalah seorang laki-laki, tentu obsesinya bercampur dengan bayangan-bayangan erotis. Perempuan adalah obyek citraan yang manis. Citraan yang diselubungi derap seksual (Endraswara, 2008: 144).

 

Kritik sastra feminis diibaratkan dengan quilt, dengan dasar pemikiran bahwa kritik sastra feminis adalah alas yang kuat untuk menyatukan pendirian bahwa seorang perempuan dapat membaca sebagai perempuan, mengarang sebagai perempuan, dan menafsirkan karya sastra sebagai perempuan.

 

Kritik sastra feminis bertolak dari permasalahan pokok, yaitu anggapan perbedaan seksual dalam interpretasi dan perebutan makna karya sastra. Kritik feminis bukan merupakan kecaman terhadap salah satu kritik sastra, melainkan pandangan yang lebih menunjuk pada aneka ragam cara dalam perbincangan konsep perbedaan sosial. Yang diinginkan para kritikus feminis adalah adanya suatu revisi atau perbaikan, suatu perubahan lengkap pada semua ide tentang dunia sastra. (Sugihastuti, 2010: 6-10).

 

Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu kritik sastra yang lahir sebagai respon atas berkembangnya feminisme di berbagai penjuru dunia. Kritik sastra feminisme merupakan aliran baru dalam sosiologi sastra. Lahirnya bersamaan dengan kesadaran perempuan akan haknya. Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta derajat laki-laki. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki. Berkaitan dengan, maka muncullah istilah equal right’s movement atau gerakan persamaan hak. Cara lain adalah membebaskan perempuan dari ikatan lingkungan domestik atau lingkungan keluarga dan rumah tangga.

 

Kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkal yang dominan (Djajanegara, 2000: 27). Kedua hasrat tersebut menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu. Misalnya, dalam meneliti citra wanita dalam karya sastra penulis wanita, perhatian dipusatkan pada cara-cara yang mengungkapkan tekanan-tekanan yang diderita tokoh wanita. Oleh karena telah menyerap nilai-nilai patriarkal, mungkin saja seorang penulis wanita menciptakan tokoh-tokoh wanita dengan stereotip yang memenuhi persyaratan masyarakat patiarkal. Sebaliknya, kajian tentang wanita dalam tulisan laki-laki dapat saja menunjukkan tokoh-tokoh wanita yang kuat dan mungkin sekali justru mendukung nilai-nilai feminis.

 

Jenis-Jenis Kritik Sastra Feminis

Adapun jenis-jenis kritik sastra feminis yang berkembang di masyarakat adalah :

  • Kritik Ideologis

Kritik sastra feminis ini melibatkan wanita, khususnya kaum feminis, sebagai pembaca. Yang menjadi pusat perhatian pembaca adalah citra serta stereotipe seorang wanita dalam karya sastra. Kritik ini juga meneliti kesalahpahaman tentang wanita dan sebab-sebab mengapa wanita sering tidak diperhitungkan, bahkan nyaris diabaikan.

 

  • Kritik yang mengkaji penulis-penulis wanita

Dalam ragam ini termasuk penelitian tentang sejarah karya sastra wanita, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur penulis wanita. Di samping itu, dikaji juga kreativitas penulis wanita, profesi penulis wanita sebagai suatu perkumpulan, serta perkembangan dan peraturan tradisi penulis wanita.

  • Kritik sastra feminis sosialis

Kritik ini meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas.

  • Kritik sastra feminis-psikoanalistik

Kritik ini diterapkan pada tulisan-tulisan wanita, karena para feminis percaya bahwa pembaca wanita biasanya mengidentifikasikan dirinya dengan atau menempatkan dirinya pada si tokoh wanita, sedang tokoh wanita tersebut pada umumnya merupakan cermin penciptanya.

  •  Kritik feminis lesbian

Jenis ini hanya meneliti penulis dan tokoh wanita saja. Ragam kritik ini masih sangat terbatas karena beberapa factor, yaitu kaum feminis kurang menyukai kelompok wanita homoseksual, kurangnya jurnal-jurnal wanita yang menulis lesbianisme, kaum lesbian sendiri belum mencapai kesepakatan tentang definisi lesbianisme, kaum lesbian banyak menggunakan bahasa terselubung. Pada intinya tujuan kritik sastra feminis-lesbian adalah pertama-tama mengembangkan suatu definisi yang cermat tentang makna lesbian. Kemudian pengkritik sastra lesbian akan menentukan apakah definisi ini dapat diterapkan pada diri penulis atau pada teks karyanya.

  • Kritik feminis ras atau etnik

Kritik feminis ini berusaha mendapatkan pengakuan bagi penulis etnik dan karyanya, baik dalam kajian wanita maupun dalam kanon sastra tradisional dan sastra feminis. Kritik ini beranjak dari diskriminasi ras yang dialami kaum wanita yang berkulit selain putih di Amerika.

 

  • Kajian Sastra Feminis

Kajian sastra feminis mempunyai dua fokus. Pertama, menggali, mengkaji serta menilai karya penulis-penulis perempuan dari masa silam. Mereka mempertanyakan tolok ukur apa saja yang dipakai pengkritik sastra terdahulu sehingga kanon sastra didominasi penulis laki-laki. Tujuan kedua mengkaji karya-karya tersebut dengan pendekatan feminis. Ketiga, pengkritik sastra feminis terutama berhasrat mengetahui bagaimana cara menerapkan penilaian estetik, di mana letak nilai estetiknya serta apakah nilai estetik yang telah dilakukan sungguh-sungguh sah. Singkatnya menilai tolok ukur yang digunakan untuk menentukan cara-cara penilaian lama.

 

Berdasarkan ketiga tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa apa yang dikehendaki pengkritik sastra feminis adalah hak yang sama untuk mengungkapkan makna-makna baru yang mungkin berbeda dari teks-teks lama.

 

Pendekatan feminisme adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan fokus perhatian pada relasi gender yang timpang dan mempromosikan pada tataran yang seimbang antar laki-laki dan perempuan (Djajanegara, 2000: 27). Feminisme bukan merupakan pemberontakan kaum wanita kepada laki-laki, upaya melawan pranata sosial, seperti institusi rumah tangga dan perkawinan atau pandangan upaya wanita untuk mengingkari kodratnya, melainkan lebih sebagai upaya untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan. Feminisme muncul akibat dari adanya prasangka jender yang menomorduakan perempuan. Anggapan bahwa secara universal laki-laki berbeda dengan perempuan mengakibatkan perempuan dinomorduakan. Perbedaan tersebut tidak hanya pada kriteria sosial budaya. Asumsi tersebut membuat kaum feminis memperjuangkan hak-hak perempuan di semua aspek kehidupan dengan tujuan agar kaum perempuan mendapatkan kedudukan yang sederajat dengan kaum laki-laki.

 

Tokoh Penggerak Feminisme

Beberapa tokoh yang berperan penting dalam gerakan feminisme atau penggerak lahirnya paham feminisme, diantaranya adalah :

1)      Simone De Beauvoir

Simone De Beauvoir meletakkan dengan sangat jelas masalah dasar feminisme. Bila seorang perempuan mencoba membatasi dirinya sendiri, maka dia akan mulai dengan berkata “Saya adalah Seorang Perempuan”. Tidak ada laki-laki yang melakukan hal seperti itu, kenyataan ini membuat ketidak sejajaran antara “maskulin dan feminis”.

2)      Betty Friedan

Betty Friedan beranggapan bahwa perempuan adalah kaum yang tidak aktif atau di pasifkan karena budaya patriarki dalam keluarga.

3)      Germaine Greer

Germaine Greer memperkirakan akan ada benturan dalam paham feminis, emansipasi perempuan akan selalu menjadi teoritis, mudah dibaca dan pagmatis.

4)      Kate Millet dan Michele Barret

Dalam karyanya Kate Millet mengurai sebab-sebab penindasan terhadap perempuan adalah dikarenakan budaya patriarki yang meletakkan perempuan di bawah kekuasaan laki-laki.

5)      Luce Irigaray

Luce Irigaray memiliki pandangan tentang teori pengetahuan, bahwa subjek dari pengetahuan selalu menitikberatkan pada kaum laki-laki dan selalu dibeda-bedakan dengan kaum perempuan.

 

…………………………………..

………………………..

*feminisme : gerakan wanita yg menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria

*feminis : pelaku feminisme

Daftar Pustaka

 

Djajanegara, Soenarjati. 2002. Kritik Sastra Feminis; Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra; Epistimologi, Model, Teori, dan Aplikasi (Edisi Revisi). Yogyakarta: MedPress (Anggota IKAPI).

Sugihastuti dan Suharto. 2010. Kritik Sastra Feminis, Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s