Deiksis

Penggunaan Deiksis

Pengertian Deiksis

Deiksis berasal dari bahasa Yunani deikditos, yang berarti hal penunjukkan secara langsung. Dalam linguistik kata itu dipakai untuk menggambarkan fungsi kata ganti persona, fungsi waktu dan bermacam-macam ciri gramatikal dan leksikal lainnya yang menghubungkan ujaran dengan jalinan ruang dan waktu dalam tindak ujaran.

Lihat bentuk-bentuk-pragmatik

 

Sebuah kata bersifat deiksis jika referen atau rujukannya berpindah-pindah atau berganti-ganti tergantung pada siapa yang menjadi pembicara, atau saat bicara dan tempat dituturkannya kata itu.

 

Bambang Kaswanti Purwo (dalam Chaniago, dkk:2001) membedakan deiksis menjadi tiga bagian, yaitu deiksis persona, deiksis ruang dan deiksis waktu.

 

Deiksis dan Kegunaannya

  • Deiksis Persona

Deiksis persona mengarah pada pemahaman kata ganti diri. Dalam Bahasa Indonesia mengenal pembagian kata ganti atas tiga, yaitu kata ganti persona petama, kata ganti persona kedua, dan kata ganti persona ketiga.

Kata ganti persona pertama

Terdapat dua bentuk kata ganti persona pertama, yaitu aku  dan saya. Keduanya memiliki perbedaan penggunaan. Kata aku dipakai dalam situasi informal, misalnya diantara dua peserta tindak ujaran yang saling mengenal, atau memiliki hubungan yang akrab. Kata saya digunakan dalam situasi formal, misalnya ceramah, pidato, kuliah.

 

Selain aku dan  saya, kata ganti persona pertama juga memiliki bentuk lain, yaitu daku yang merupakan bentuk bebas, dan ku yang merupakan bentuk terikat, baik lekat kiri maupun lekat kanan. Daku dalam situasi umum jarang digunakan. Biasanya daku terdapat pada puisi, lagu atau karya sastra lain.

 

Bentuk terikat ku tidak merupakan deiksis jika merujuk pada Tuhan YME, dan biasanya ditulis dengan huruf kapital pada huruf awalnya. Contoh: sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih.

 Kata ganti persona kedua

Kata ganti persona kedua merujuk pada seseorang yang menjadi lawan tutur. Yang termasuk dalam kata ganti persona kedua adalah engkau, anda, kau, dan kamu.

 

Selain itu juga terdapat bentuk lain kata ganti persona kedua, yaitu dikau sebagai bentuk bebas, dan –mu sebagai bentuk terikat. Penggunaan dikau juga jarang ditemukan dalam situasi umum atau komunikasi sehari-hari.

 

 Kata ganti persona ketiga

Kata-kata yang termasuk dalam kata ganti persona ketiga adalah kata ia, dia, dan beliau. Bentuk jamak dari kata ganti persona ketiga yaitu kata mereka, sedangkan bentuk terikatnya yaitu kata –nya.

 

  • Deiksis Ruang

Deiksis ruang mengacu mengacu pada penggambaran tempat atau keadaan tertentu yang berorientasi pada sudut pandang penutur atau pembicara.

Contoh: Menurut saya, lokasi ini sangat cocok untuk membuka tempat usaha.

 

Bentuk-bentuk proposisi di, ke, dari dan pada, jika digabungkan dengan penunjuk tempat akan membentuk deiksis ruang, dengan catatan unsur rujukan yang berorientasi pada penutur juga terdapat dalam tuturan atau wacana.

Contoh: Mahasiswa sedang memusatkan perhatian ke penjelasan yang diberikan oleh dosen.

–          Proposisi ke di atas merujuk pada satu hal (pelajaran) yang juga terdapat pada tuturan atau wacana tersebut.

Leksem ruang seperti dekat, jauh, tinggi, pendek tidak bersifat deiksis. Perubahan sifat leksem tersebut menjadi sebuah deiksis dilakukan dengan cara merangkaikannya dengan bentuk persona.

Contoh:

  1. Gadingrejo dekat dengan Pringsewu.
  2. Rumah Ani dekat dengan rumah saya.

Contoh (a) leksem dekat tidak deiksis, karena perujukannya tetap, tidak berganti. Karena dilihat dari sudut pandang manapun Gadingrejo dan Pringsewu memang dekat. Sedangkan contoh (b) merupakan deiksis, karena jika kata ‘saya’ diucapkan oleh penutur yang berbeda, maka perujukannya juga akan berganti.

  • Deiksis Waktu

Deiksis waktu mengacu pada penggambaran waktu dan bersifat temporal. Leksem waktu dikatakan deiksis apabila yang dijadikan patokan adalah penutur atau pembicara. Leksem waktu dapat dengan sendirinya bersifat deiksis atau dapat juga dibentuk dengan cara menggabungkan unsur-unsur lain pada leksem tersebut.

Contoh:

  1. Kemarin hujan sangat deras.
  2. Kita akan mengikuti PKL bulan depan.

Contoh (a) merupakan deiksis dan bersifat bebas. Sedangkan contoh (b) merupakan deiksis bentukan dari leksem ruang (depan) yang mengungkapkan pengertian waktu (bulan depan).

Leksem waktu pagi, siang, sore, malam tidak merupakan deiksis. Karena perbedaan masing-masing leksem itu ditentukan berdasarkan patokan posisi planet bumi dan matahari.

Contoh deiksis dalam wacana:

Malam selalu terasa begitu dingin. Semilirnya hembusan angin berhasil membuatku menggigil. Mengenangmu menjadi rutinitas wajibku setiap malam. Ketika kau masih di sini bersamaku. Saat kau menjanjikan kebahagiaan untukku kelak. Tapi semua berlalu. Kau tak muncul tahun ini, bahkan mungkin tahun depan. Kau dan aku hingga malam ini menelan jauhnya jarak untuk sekedar mengungkapkan rindu. Hanya kebesaran-Nya menjadi harapanku.

Keterangan (sesuai urutan kalimat):

1)      Malam                   : bukan deiksis, karena perujukannya tetap, yaitu waktu ketika matahari telah terbenam (penutur tidak menjadi patokan)

2)      Membuatku           : deiksis, karena merujuk pada si aku (-ku bentuk terikat) yaitu si penutur.

3)      Kau                       : deiksis (kata ganti persona kedua) mengacu pada sasaran tutur.

4)      Kelak, depan         : deiksis waktu

5)      Jauh                       : bukan deiksis

6)      Kebesaran-Nya     : bukan deiksis

 

Daftar Pustaka

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angkasa.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s