peta-indonesia

Sintaksis

SINTAKSIS

Dalam dunia kebahasaan kita mempelajari beberapa macam ilmu yang sangat penting. Dari beberapa cabang ilmu tersebut kita mengenal dengan salah satu cabang ilmu yang disebut sintaksis. Secara etimologi, sintaksis berasal dari bahasa Yunani yaitu Sun “dengan” dan tattein “bersama-sama, menempatkan”.

Dari kata yang telah disebutkan, maka kita dapat mengambil suatu pengertian tentang sintaksis yaitu suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang penempatan secara bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat atau dengan kata lain sintaksis adalah suatu cabang ilmu dalam kebahasaan yang mempelajari tentang bagaimana menyusun suatu kelompok kata menjadi kalimat.

 

Salah satu kajian sintaksis yaitu kalimat yang merupakan alat interaksi dan kelengkapan pesan atau isi yang akan disampaikan, didefinisikan sebagai susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap. Sedangkan dalam kaitannya dengan satuan-satuan sintaksis yang lebih kecil (kata, frase, dan klausa), kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final.

 

Kalimat juga merupakan satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung satu pengertian dan mempunyai pola intonasi akhir serta bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, serta memiliki fungsi-fungsi gramatikal.

 

 

Istilah sintaksis secara langsung terambil dari bahasa Belanda syntaxsis. Dalam bahasa inggris digunakan istilah syntax. Sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Contoh

(1)   Seorang pelajar sedang belajar di perpustakaan.

Kalimat diatas terdiri dari satu klausa yang terdiri dari S ialah seorang pelajar. P ialah sedang belajar. Dan KET ialah di perpustakaan. Tiap – tiap fungsi dalam klausa itu terdiri dari satuan yang disebut frase. Ialah seorang pelajar, sedang belajar dan di perpustakaan. Yang masing masing terdiri dari dua kata. Ialah seorang dan pelajar yang membentuk frase sedang belajar, dan di serta perpustakaan yang membentuk frase di perpustakaan.

Pembicaraan tentang kalimat, klausa, frase frase, dan juga pembicaraan tentang hubungan antara kalimat (1) di atas dengan kalimat kalimat sebelumnya dan sesudahnya pada tataran wacana itu termasuk dalam bidang sintaksis, sedangkan pembicaraan tentang kata seorang yang terdiri dari dua morfem, yaitu morfem se- dan orang. Tentang kata pelajar yang terdiri dari dua morfem yaitu morfem per- dan ajar. Tentang kata belajar yang terdiri dari dua morfem ber- dan ajar. Tentang kata di yang terdiri dari satu morfem. Dan tentang kata perpustakaan  yang terdiri dari dua morfem, yaitu morfem per-an dan pustaka termasuk bidang morfologi.

Satuan wacana terdiri dari unsur-unsur yang berupa kalimat;satuan kalimat terdiri dari unsur atau unsur-unsur yang berupa klausa;satuan klausa terdiri unsur-unsur yang berupa frase;dan frase terdiri dari unsur-unsur yang berupa kata. Sintaksis sebagai bagian dari ilmu bahasa berusaha menjelaskan unsur unsur suatu satuan serta hubungan antara unsur-unsur itu dalam suatu satuan, baik hubungan fungsional maupun hubungan maknawi.

Penentuan Kalimat

Bahasa terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan bentuk dan lapisan arti yang dinyatakan oleh bentuk bahasa terdiri dari satuan-satuan yang dapat dibedakan menjadi satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan gramatik.Satuan fonologik meliputi fonem dan suku. Sedangkan fonologik meliputi fonem dan suku, sedangkan satuan gramatika meliputi wacana, kalimat, klausa, frase, kata, dan morfem.

 

Kalimat ada yang terdiri dari satu kata. Misalnya Ah’, kemarin. Ada yang terdiri dari dua kata. Misalnya itu toko, Ia mahasiswa. Dan ada juga yang terdiri dari tiga, empat, lima dan seterusnya. Sesungguhnya yang menentukan satuan kalimat bukannya banyak kata yang menjadi unsurnya. Melainkan intonasinya. Setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Dibawah ini diberikan contoh sebagai berikut:

Beberapa hari bapak hanya termangu mangu saja. Ia tidak berangkat ke kantor. Juga tidak lagi mencangkul di lading. Untunglah. Ibu tidak berlari lari. Ibu hanya diam di rumah saja. Hanya kadang kadang tertawa atau menangis. Ah. Ibu. Badanku menjadi kurus sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah. Ocehan kawan kawan sangat menyayat hatiku. Rupanya berita itu sudah sampai pula ke sekolahku. Siapa yang membawanya? Sekarang tugasku hanya menunggu ibu di rumah. Sedang bibi ikut membantu memasakkan lauk. Tetapi sering pula bibi ikut menunggu ibu dan membiarkan Ida bermain main sendiri di tamannya yang kecil.

Kalau diperhatikan orang mengucapkan tuturan diatas, jelas dapat didengar adanya penggalan-penggalan atau jeda yang bertingkat-tingkat ada yang pendek, misalnya antara kata beberapa dan hari. Antara kata hanya dan termangu-mangu. Dan antara kata termangu mangu dan kata saja ada yang sedang. Misalnya antara kata frase beberapa hari dan kata bapak. Antara kata bapak dan frase hanya termangu mangu saja;da nada yang panjang serta disertai nada akhir turun atau naik. Jeda panjang yang disertai nada akhir naik terdapat sesudah orang mengucapkan membawanya. Jadi berdasarkan intonasinya. Ialah berdasarkan adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Tuturan diatas terdiri dari sebelas satuan kalimat, yaitu :

  1. Beberapa hari bapak hanya termangu mangu saja.
  2. Ia tidak berangkat ke kantor. Juga tidak lagi mencangkul di lading.
  3. Untunglah. Ibu tidak berlari-lari.
  4. Ibu hanya diam di rumah saja. Hanya kadang-kadang tertawa atau menangis.
  5. Ah. Ibu.
  6. Badanku menjadi kurus.
  7. Sudah tiga hari aku tidak masuk sekolah.
  8. Ocehan kawan-kawan sangat menyayat hatiku.
  9. Rupanya berita ini sudah sampai pula ke sekolahku.
  10. Siapa yang membawanya?
  11. Sekarang tugasku hanya menunggu ibu di rumah. Sedang bibi ikut membantu memasakkan lauk. Tetapi sering pula bibi ikut menunggu ibu dan membiarkan Ida bermain-main sendiri di tamannya yang kecil.

Dari uraian diatas, jelaslah bahwa yang dimaksud dengan istilah kalimat disini ialah satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik.

Kalimat Berklausa Dan Kalimat Tak Berklausa

Kalimat tadi pagi pegawai itu terlambat terdiri dari satu klausa, berbeda dengan kalimat Selamat malam!, yang terdiri dari satuan yang bukan klausa. Demikianlah, berdasarkan unsurnya. Kalimat dapat digolongkan menjadi dua golongan. Yaitu kalimat berklausa dan kalimat tak berklausa.

 

Kalimat yang berklausa ialah kalimat yang terdiri dari satuan yang berupa klausa. Dalam tulisan ini klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri dari subjek dan predikat, disertai objek, pelengkap. Dan keterangan atau tidak. Dengan ringkas, klausa ialah S P (O) (PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa apa yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, maksudnya boleh ada, boleh tidak.

  1. Lembaga itu menerbitkan majalah sastra.
  2. Bapak gubernur besok pagi akan ke Jakarta.
  3. Negara Indonesia berdasarkan Pancasila.

Kalimat (2) terdiri dari klausa lembaga itu menerbitkan majalah sastra. Yang terdiri dari S, ialah lembaga itu, P, ialah menerbitkan,dan O, ialah majalah sastra;kalimat (3) terdiri dari klausa bapak gubernur besok pagi akan ke Jakarta, yang terdiri dari klausa Bapak Gubernur,KET;besok pagi, dan P; akan ke Jakarta; kalimat (4) terdiri dari klausa Negara Indonesia berdasarkan Pancasila.yang terdiri dari S;Negara Indonesia. P;berdasarkan. dan PEL;Pancasila.

Ada juga kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih. Misalnya :

  1. Perasaan ini timbul dengan tiba tiba tatkala kereta api mulai memasuki daerah perbatasan.
  2. Semua itu adalah miliknya, bahkan aku pun menjadi miliknya bila aku turun ke darat.
  3. Tengah Karmila menangis menghadapi tembok. Bapak Daud masuk diantar suster Meta.

Kalimat (5) terdiri dari dua klausa, yaitu perasaan ini timbul dengan tiba tiba sebagai klausa pertama. Dan kereta api mulai memasuki daerah perbatasan sebagai klausa kedua;kalimat (6) terdiri dari tiga klausa. Yaitu semua itu adalah miliknya sebagai klausa pertama. Akupun menjadi miliknya sebagai klausa kedua. Dan aku turun ke darat sebagai klausa ketiga. Sedangkan kalimat (7) terdiri dari empat klausa. Ialah Karmila menangis sebagai klausa pertama. (Karmila) menghadapi tembok sebagai klausa kedua. Bapak Daud masuk sebagai klausa ketiga, dan bapak (Daud) diantar suster Meta sebagai klausa keempat.

Pada kalimat luas, yaitu kalimat yang terdiri dari dua klausa atau lebih, sering terjadi penghilangan S, seperti yang terjadi pada kalimat (7) diatas. Kalimat (7) itu terdiri dari empat klausa. Klausa pertama merupakan klausa lengkap. Terdiri dari S P, klausa kedua merupakan klausa tak lengkap, terdiri dari P diikuti O. klausa ketiga merupakan klausa lengkap yang terdiri dari S P, dan klausa keempat merupakan klausa tak lengkap terdiri dari P diikuti KET. Jadi terjadi penghilangan S pada klausa kedua dan keempat.

Demikian pula halnya pada kalimat Tanya, kalimat jawaban, dan kalimat suruh. Sering terjadi penghilangan S. misalnya :

  • A bertanya kepada B : “sedang mengapa?”

B menjawab  : “sedang mengetik surat”

A berkata pula : “duduklah sebentar disini”.

Terjadi penghilangan S pada kalimat kalimat diatas. Pada kalimat Sedang mengapa? Terjadi penghilangan kata engkau, pada kalimat Sedang mengetik surat,terjadi penghilangan kata saya, dan pada kalimat Duduklah sebentar disini terjadi penghilangan kata engkau.

Kadang kadang sering terjadi pula pemghilangan P hingga klausa itu hanya terdiri dari S diikuti O,PEL,KET. Atau tidak. Misalnya :

  • Amin dan Ahmad pergi ke toko buku. Amin membeli buku aljabar. Ahmad buku sejarah.

Kalimat tak berklausa ialah kalimat yang tidak terdiri dari klausa. Misalnya:

  1. Astaga !
  2. Selamat malam !
  3. Selamat belajar !

 

Kalimat Berita

Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat dapat digolongkan menjadi tiga golongan. Yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh. Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian. Kadang-kadang perhatian itu disertai anggukan, kadang-kadang pula disertai ucapan “ya”.

 

Kalimat berita adalah kalimat yang mendukung suatu pengungkapan peristiwa atau kejadian. Orang yang menyampaikan peristiwa tersebut, berusaha mengungkapkannya seobyektif mungkin. Ia boleh menyampaikan suatu hal secara langsung, yakni langsung mengucapkan tutur orang lain, atau menyampaikan secara tak langsung dengan pengolahannya sendiri. Oleh karena itu kalimat berita dapat berbentuk ucapan langsung atau ucapan tidak langsung.

Contoh:

  • Ucapan langsung:

Ia mengatakan, “Saya tak mau membayar hutang itu.”

“Dahulu orang yang masyhur itu berdiam di sini,” katanya sejurus kemudian.

  •  Ucapan tak langsung:

Ayah membeli sebidang tanah

Ia pernah sekali datang ke mari.

Ciri-ciri formal yang dapat membedakan kalimat berita dari macam-macam kalimat yang lain hanyalah intonasinya yang netral, tak ada suatu bagian yang lebih dipentingkan dari yang lain. Susunan kalimat tak dapat dijadikan ciri-ciri karena susunannya hampir sama saja dengan susunan kalimat-kalimat lain. Kadang-kadang kita mendapat ciri formal lain, misalnya kata-kata tanya pada kalimat tanya, serta macam-macam kata tugas pada beberapa macam kalimat perintah.

Suatu bagian dari kalimat berita dapat dijadikan pokok pembicaraan. Dalam hal ini bagian tersebut dapat ditempatkan di depan kalimat, atau bagian yang bersangkutan mendapat intonasi yang lebih keras. Intonasi yang lebih keras yang menyertai kalimat berita semacam ini disebut intonasi pementing.

 Kalimat Tanya

Yang dimaksud dengan kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung suatu permintaan agar kita diberitahu sesuatu karena kita tidak mengetahui sesuatu hal. Bila kita membandingkan kalimat tanya dengan kalimat berita maka terdapat beberapa ciri yang dengan tegas membedakannya dengan kalimat berita.

 

Ciri-ciri tersebut adalah:

  1. Intonasi yang digunakan adalah intonasi tanya.
  2. Sering mempergunakan kata tanya.
  3. Dapat pula mempergunakan partikel tanya –kah.

Kata-kata tanya yang biasa digunakan dalam sebuah kalimat tanya, dapat digolongkan berdasarkan sifat dan maksud pertanyaan:

  1. Yang menanyakan tentang benda atau hal: apa, dari apa, untuk apa, dan sebagainya.
  2. Yang menanyakan tentang manusia: siapa, dari siapa, dan lain-lain.
  3. Yang menanyakan tentang jumlah: berapa.
  4. Yang menanyakan tentang pilihan atas beberapa hal atau barang: mana.
  5. Yang menanyakan tentang tempat: di mana, ke mana, dari mana.
  6. Yang menanyakan tentang waktu: bila, bilamana, kapan, apabila.
  7. Yang menanyakan tentang keadaan atau situasi: bagaimana, betapa.
  8. Yang menanyakan tentang sebab: mengapa, apa sebab, dan sebagainya.

Pada umumnya semua kalimat tanya mengehendaki suatu jawaban atas isi pertanyaan tersebut. Tetapi ada pula pertanyaan yang sama sekali tidak menghendaki jawaban, dan dipakai sebagai suatu cara dalam gaya bahasa; pertanyaan semacam ini disebut petanyaan retoris. Pertanyaan retoris biasa dipakai dalam pidato-pidato atau percakapan-percakapan lain di mana pendengar sudah mengetahui atau dianggap sudah mengetahui jawabannya. Ada pula semacam pertanyaan lain yang sebenarnya sama nilainya dengan perintah, di mana si penanya sudah mengetahui jawabannya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sekurang-kurangnya ada 3 macam kalimat tanya:

  1. Pertanyaan biasa.
  2. Petanyaan retoris
  3. Pertanyaan yang senilai dengan perintah.

Di samping pembagian di atas, kalimat tanya dapat dibagi lagi menurut cakupan terhadap isi pertanyaan tersebut. Kita dapat menekan seluruh rangkaian pertanyaan itu, yang berarti tidak ada bagian yang lebih dipentingkan, atau kita hanya mementingkan salah satu bagian yang menjadi pokok pertanyaan kita. Hasil jawabannya pun akan berbeda dengan kedua macam pertanyaan tersebut.

Macam kalimat pertama akan menghasilkan jawaban ya atau tidak sedangkan pertanyaan macam yang kedua menghasilkan jawaban sesuai dengan bagian yang dipentingkan. Jadi berdasarkan penekanan atau cakupan isi pertanyaan, kalimat tanya dapat dibagi atas:

a.      Pertanyaan total:

Engkau mengatakan hal itu? Ya. Tidak.

Engkau belajar bersama dia? Ya. Tidak.

b.       Pertanyaan parsial:

Siapa yang mengatakan hal itu? Ali

Di mana kau belajar? Di sekolah.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kalimat tanya. Di atas telah dikatakan bahwa ciri dari kalimat tanya adalah intonasi tanya. Tetapi dalam percakapan sehari-hari, sering terjadi bahwa dalam kalimat tanya yang memakai kata tanya tidak terdengar intonasi tanya, sedangkan kalimat tanya yang tidak memakai kata tanya selalu memakai intonasi tanya. Jadi ciri intonasi tanya dan kata tanya merupakan ciri yang amat penting bagi kalimat tanya. Tetapi bila kalimat tanya mengandung kata tanya kita boleh memilih antara: mempergunakan intonasi tanya, atau boleh juga mempergunakan intonasi berita (biasa).

 

 Kalimat Suruh (Perintah)

 

Yang disebut perintah adalah menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Perintah meliputi suruhan yang keras hingga ke permintaan yang sangat halus. Begitu pula suatu perintah dapat ditafsirkan sebagai pernyataan mengijinkan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, atau menyatakan syarat untuk terjadinya sesuatu, malahan sampai kepada tafsiran makna ejekan atau sindiran.

 

Suatu perintah dapat pula berbalik dari menyuruh berbuat sesuatu menjadi mencegah atau melarang berbuat sesuatu. Makna mana yang didukung oleh kalimat perintah tersebut, tergantung pula dari situasi yang dimasukinya.

Karena itu kita dapat merinci kemungkinan kalimat perintah menjadi:

  •  Perintah biasa

Contoh: Usirlah anjing itu!!

Pergilah dari sini!

  • Permintaan. Dalam permintaan sikap orang yang menyuruh lebih merendah.

Contoh: Tolong sampaikan kepadanya, bahwa ia boleh datang besok!

Coba ambilkan buku itu!

  • Ijin; memperkenankan seseorang untuk berbuat seuatu.

Contoh: Ambillah buku itu seberapa kau suka!

Masuklah ke dalam jika Anda mau!

  •  Ajakan

Contoh: Marilah kita beristirahat sebentar!

Baiknya kamu menyusul dia ke sana !

  • Syarat; semacam perintah yang mengandung syarat untuk terpenuhinya suatu hal.

Contoh: Tanyakanlah kepadanya, tentu ia akan menerangkannya kepadamu!

  • Cemooh atau sindiran; perintah yang mengandung ejekan, karena kita yakin bahwa yang    diperintah tak akan melakukannya.

Contoh: Buatlah itu sendiri, kalau kau bisa!

Pukulah ia kalau kau berani!

  1.  Larangan: semacam perintah yang mencegah berbuat sesuatu.

Contoh: Jangan lewat sini!

Jangan bicara!

Setelah mengadakan perincian isi bermacam-macam kalimat perintah, baiknya kita melihat ciri-ciri kalimat perintah, agar lebih jelas perbedaan antara kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat berita.

Ciri-ciri suatu kalimat perintah:

  1. Intonasi keras (terutama perintah biasa dan larangan).
  2. Kata kerja yang mendukung isi perintah itu biasanya merupakan kata dasar.
  3.  Mempergunakan partikel pengeras –lah­.

 

daftar pustaka

Ramlan, M. 2001. Ilmu Bahasa Indonesia. Yogyakarta : CV Angkasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s