peta-indonesia

SINTAKSIS; Klausa

Bahasa merupakan suatu sistem kode yang digunakan oleh manusia untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa sebagai satuan-satuan kalimat dapat dianalisis melalui tataran unsur-unsurnya baik secara fonologik maupun morfologik.

Analisis bahasa pada tataran sintaksis berkaitan dengan struktur dan pembentukan kalimat. Istilah sintaksis berasal dari bahasa Belanda syntaxis atau syntax dalam bahasa Inggris yang berarti bagian atau cabang ilmu bahasa yang membicarakan tentang seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan  frase.

Klausa adalah satuan gramatik yang terdiri dari subjek dan predikat baik itu disertai dengan unsur lainnya maupun tidak. Unsur-unsur lain seperti objek, keterangan dan pelengkap bersifat manasuka artinya boleh ada, boleh juga tidak.

Klausa merupakan satuan gamatik yang terdiri dari subjek dan predikat baik itu disertai objek, keterangan dan pelengkap maupun tidak.

 

Unsur inti dari klausa adalah S dan P. Meski demikian, S seringkali dihilangkan, misalnya dalam kalimat jawaban. Contoh:

  1. Tengah Karmila menangis menghadapi tembok, Bapak Daud masuk diantar suster Meta.
  2. Sedang bermain-main. (Sebagai jawaban pertanyaan apa yang sedang anak-anak itu lakukan?)

Contoh kalimat (a) terdiri dari 4 klausa. Atas penggabungan keempat klausa tersebut, unsur S pada klausa kedua dan keempat dihilangkan. Sedangkan kalimat yang (b) terdiri dari satu klausa yaitu sedang bermain-main yang hanya berunsur P. S pada kalimat tersebut dihilangkan karena merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa unsur yang selalu ada dalam klausa adalah P. Unsur-unsur lainnya mungkin ada, mungkin juga tidak.

1. Analisis Klausa

Klausa dapat dianalisis berdasarkan 3 segi dasar, yaitu:

Berdasarkan fungsi unsur-unsurnya

Klausa terdiri dari unsur-unsur fungsional seperti S, P, O, Ket, dan Pel. Kelima unsur tersebut tidak selalu ada bersama-sama dalam satu klausa. Unsur fungsional yang cenderung selalu ada dalam klausa adalah P.

Berdasarkan frase atau kategori kata yang menjadi unsurnya

Klausa terdiri atas unsur-unsur fungsional yaitu S, P, O, Ket, dan Pel. Melalui analisis lebih lanjut, ternyata unsur-unsur fungsional ini hanya dapat diisi dengan golongan atau frase atau kategori kata tertentu. Kata atau frase yang dapat menempati fungsi tersebut hanyalah kata atau frase dari golongan atau  kategori tertentu. Tidak semua kategori kata atau frase dapat menduduki semua fungsi klausa. Analisis klausa berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsur-unsur klausa disebut analisis kategorial. Selain itu terdapat analisis fungsional yang menganalisis klausa berdasarkan fungsinya.

Berdasarkan makna unsur-unsurnya

Fungsi kategori kata atau frase di atas juga terdiri atas makna-makna yang sudah barang makna unsur pengisi satu fungsi berkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi yang lain.

  • Makna unsur pengisi P

–          Menyatakan makna perbuatan

Contoh : Rene sedang belajar

Frase sedang belajar yang menduduki fungsi P menyatakan makna ‘perbuatan’ yaitu sesuatu yang sedang dilakukan oleh ‘pelakunya’ yang ada dalam kalimat tersebut yang terdapat pada S yaitu Rene.

–          Menyatakan makna keadaan

Contoh : Rambutnya hitam dan lebat

Kata-kata hitam dan lebat  tidak menyatakan makna ‘perbuatan’ melainkan menyatakan makna ‘keadaan’. Makna ‘keadaan’ dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

1)      Keadaan yang relatif singkat. Keadaan ini mudah berubah. Misalnya:

  • Rumah itu sangat bersih
  • Kami sudah mengantuk

2)      Keadaan yang relatif lama dan kecenderungannya tidak berubah. Keadaan yang semacam ini secara khusus disebut sifat. Misalnya:

  • Pegawai itu amat rajin
  • Anak itu sangat menyenangkan

3)      Keadaan yang merupakan runtunan perubahan keadaan yang disebut proses. Misalnya:

  • Makanan itu  membusuk
  • Pengaruhnya semakin meluas

4)      Keadaan yang merupakan pengalaman kejiwaan. Misalnya:

  • Orang itu dapat memahami keinginan anaknya.
  • Engkau belum yakin benar akan kejujurannya.

–          Menyatakan makna ‘keberadaan’

Contoh: Para tamu ada di ruang depan.

Kata ada yang menjadi unsur pengisi fungsi P tidak menyatakan makna ‘perbuatan’ dan ‘keadaan’ melainkan menyatakan makna ‘keberadaan’.

–          Menyatakan makna ‘pengenal’

Contoh: Orang itu pegawai kedutaan.

Gedung itu gedung sekolah.

Unsur pengisi P yang terdiri dari frase dengan golongan N yaitu pegawa kedutaan dan gedung sekolah menyatakan makna ‘pengenal’ atau ‘identitas’, yaitu ciri khas seseorang atau sesuatu benda yang menyebabkan orang atau benda tersebut mudah dikenal.

–          Menyatakan makna ‘jumlah’

Contoh: Kaki meja itu empat.

Kata empat yang termasuk dalam golongan kata Bil. Yang dalam kalimat di atas mengisi fungsi P, menyatakan makna ‘jumlah’ menjawab pertanyaan berapa.

–          Menyatakan makna pemerolehan

Contoh: Ahmad mendapat hadiah.

Toni memiliki radio.

Kata mendapat dan memiliki yang mengisi unsur fungsi P pada kalimat-kalimat di atas menyatakan makna ‘pemerolehan’ atau ‘benefaktif’ yaitu peruntukan, kegunaan atau manfaat.

  • Makna pengisi unsur S

–          Menyatakan makna ‘pelaku’

Contoh: Rene sedang belajar.

Perbuatan belajar dalam kalimat di atas dilakukan oleh Rene yang menyatakan makna ‘pelaku’, yaitu yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh pengisi fungsi P.

–          Menyatakan makna ‘alat’

Contoh: Truk-truk itu mengangkut beras.

Unsur pengisi fungsi S yang terdiri dari frase golongan N yaitu Truk-truk itu bukan menyatakan makna ‘pelaku’, melainkan menyatakan makna ‘alat’, yaitu alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan.

–          Menyatakan makna ‘sebab’

Contoh: Banjir besar itu menghancurkan kota.

Unsur pengisi fungsi S yang terdiri dari frase golongan N, yaitu banjir besar itu bukan menyatakan makna ‘pelaku’ atau ‘alat’ melainkan menyatakan ‘sebab’ yaitu sebab yang menyebabkan hancurnya kota.

–          Menyatakan makna ‘penderita’

Contoh: Jalan-jalan sedang diperbaiki.

Unsur pengisi fungsi S yang terdiri dari frase golongan N, yaitu jalan-jalan menyatakan makna penderita, yaitu yang menderita akibat perbuatan yang dinyatakan pada P dalam kalimat ini yang sedang diperbaiki.

–          Menyatakan makna ‘hasil’

Contoh: Rumah-rumah murah banyak didirikan pemerintah.

Unsur pengisi fungsi S yang terdiri dari frase golongan N yaitu rumah-rumah murah  merupakan hasil dari perbuatan yang dinyatakan dalam P, yaitu perbuatan ‘mendirikan’.

–          Menyatakan makna ‘tempat’

Contoh: Pantai Parangtritis banyak dikunjungi para turis.

Unsur pengisi fungsi S yang terdiri dari frase golongan N yaitu Pantai Parangtritis menyatakan makna ‘tempat’.

–          Menyatakan makna ‘penerima’

Contoh: Anak iti dibelikan sepeda baru oleh ayahnya.

Unsur pengisi S yang terdiri dari frase golongan N, yaitu anak itu menyatakan makna ‘penerima’, yaitu yang menerima peruntukan.

–          Menyatakan makna ‘pengalam’

Contoh: Rambutnya hitam dan lebat.

Kata atau frase Rambutnya  yang mengisi fungsi S dalam kalimat tersebut menyatakan makna ‘pengalam’, yaitu yang mengalami keadaan yang dinyatakan dalam P.

–          Menyatakan makna ‘terjumlah’

Contoh: Kaki meja itu empat.

Unsur pengisi S dalam kalimat tersebut menyatakan ‘jumlah’ atau banyaknya apa yang tersebut pada P.

  • Makna pengisi unsur O1

–          Unsur pengisi O1 menyatakan makna ‘penderita’

Contoh: Ia menebang pohon.

Pada kalimat tersebut, unsur pengisi O1 yaitu pohon menyatakan makna ‘penderita’, yakni siapa yang menderita atau dikenai akibat perbuatan.

–          Unsur pengisi O1 menyatakan makna ‘penerima’

Contoh: Ahmad membelikan anaknya buku baru.

Unsur pengisi O1 yaitu anaknya menyatakan makna ‘penerima’ yakni yang menerima peruntukkan, kegunaan, dan faedah perbuatan yang dinyatakan oleh P.

–          Unsur pengisi O1 menyatakan makna ‘tempat’

Contoh: Banyak turis mengunjungi Candi Borobudur.

Frase Candi Borobudur yang menduduki fungsi O1 menyatakan makna tempat.

–          Unsur pengisi O1 menyatakan makna ‘alat’

Contoh : Polisi menembakkan pistolnya ke arah penjahat.

Unsur pengisi O1 yaitu pistolnya menyatakan makna ‘alat’, yakni alat yang digunakan untuk melakukan suatu perbuatan yang dinyatakan oleh P.

–          Unsur pengisi O1 menyatakan makna ‘hasil’

Contoh: Pemerintah membuat jalan-jalan baru.

Frase jalan-jalan baru yang menduduki fungsi O1 menyatakan makna ‘hasil’, yakni hasil perbuatan yang dinyatakan dalam P.

  • Makna pengisi unsur O2

–          Menyatakan makna ‘penderita’

Contoh: Ahmad membelikan anaknya buku baru.

Frase buku baru yang menduduki fungsi O2 menyatakan makna ‘penderita’, yaitu yang menderita atau dikenai akibat perbuatan yang dinyatakan pada P.

–          Menyatakan makna ‘hasil’

Contoh: Ahmad mengetikkan surat adiknya.

Unsur pengisi fungsi O2 yaitu surat menyatakan makna ‘hasil’, yakni hasil dari perbuatan yang dinyatakan pada P.

  • Makna unsur pengisi PEL (pelengkap)

–          Menyatakan makna ‘penderita’

Contoh: Setiap hari perempuan itu berjualan pisang.

–          Menyatakan makna ‘alat’

Contoh: Kalau hujan, mereka berpayungkan daun pisang.

  • Makna unsur pengisi KET (keterangan)

–          Menyatakan makna ‘tempat’

Contoh: Rene berbicara dengan tetangga di kebun sebelah.

–          Menyatakan makna ‘waktu’

Contoh: Bapak Bupati pergi ke Jakarta kemarin.

–          Menyatakan makna ‘cara’

Contoh: Pencuri itu lari dengan cepat.

–          Menyatakan makna ‘peserta’

Contoh: Di kebun itu Ahmad berjalan-jalan dengan temannya.

–          Menyatakan makna ‘alat’

Contoh: Orang itu memotong rumput dengan pemotong rumput.

–          Menyatakan makna ‘sebab’

Contoh: Orang itu menjadi gila karena tekanan hidup.

–          Menyatakan makna ‘pelaku’

Contoh: Murid itu telah diperingatkan berkali-kali oleh gurunya.

–          Menyatakan makna ‘keseringan’

Contoh: Ahmad telah menyerukan kata awas berkali-kali.

–          Menyatakan makna ‘perbandingan’

Contoh: Rumah itu sangat besar dan indah sebagai istana.

–          Menyatakan makna ‘perkecualian’

Contoh: Semua sudah berangkat kecuali Ahmad.

 

 

Daftar Pustaka:

Ramlan, M. 2001. ILMU BAHASA INDONESIA SINTAKSIS. Yogyakarta: CV Karyono.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s