cropped-cropped-purple_rose_by_noobert_samurai.jpg

CerPen Iseng: JINGGA

JINGGA

Oleh: N.S

Saat kau mendaki bukit yang terjal, saat hamparan batu sebesar kepalan gajah menusuk bola matamu yang kelam, saat udara dingin menyentuh kulit arimu yang telah aus. Betapa kau rasakan sebuah pilu menyambutmu laksana pisau yang senantiasa menghujam. Aku serasa tak mampu menggapai langit dengan tanganku yang cekak. Seraya langkah kaki yang terus bercokol pada bumi yang tak pernah bersekongkol.

Matamu tak sesuram punyaku. Tubuhmu tak selayu punyaku. Dan hatimu tak sepongah itu.

Mimpiku terus bergelayut bersama kabut yang terus ada untuk fajar yang membawa hari baru, jingga. Aku telah tak mampu untuk sekedar berkedip atau berjingkrak saat tetes hujan menyapu perlahan. Rasa itu telah sirna juga air mata yang terus menggenang, lalu. Tetap saja senyummu menguap, meski dengan seribu harap.

 

Gitar spanyol yang kini kau miliki tentu tak sebanding jika harus kau jajarkan dengan tamborin usang tak bernada. Jemarimu kau kulaikan lembut pada setiap nafas gitar itu.

Mentari takkan nampak, meski hari berganti. Aku tak dimusim semi.

Dari setahun lalu.

 

*****

Binar kala mata beradu dibalik semak perdu. Aku mengejarmu dengan langkah buru-buru. Sesekali kau berpaling untuk sekedar beriku senyum dan harap, kau masih untukku. Ku tunggu kau setiap kali didepan pintu. Ku lihat betapa jam enggan berhenti di angka sepuluh untuk sekedar menunggu kedatanganmu. Detak jantungku kian rapat. Melebihi detak jarum jam itu. Kau yang ku tunggu terus berlalu.

 

“Maaf terlambat.” Sapa mu datar saat kaki mu menapak didepan pintu.

“Tak apa. Kau pasti lelah, biar ku siapkan air hangat untuk kau mandi. Aku tadi juga sudah siapkan teh, tapi mungkin sudah dingin. Nanti ku ganti yang baru.”

“Ya.”

Aku segera bergegas menyiapkan segala sesuatu yang dia perlukan. Makan malam juga ku siapkan ditas meja sedari beberapa jam yang lalu.

“Makan dulu. Aku sudah siapkan makanan,” kataku saat melihatnya telah berganti pakaian yang ku siapkan.

“Aku sudah makan tadi. Kau saja. Aku mau tidur.” Jawabnya.

Tanpa menatapku, dia biarkan langkahnya terus membelakangiku. Menjauh.

Terduduk di kursi kayu berukir tempatku siapkan makan malam kami. Meski terhidang aneka makanan kesukaan. Aku mati rasa.

 

Biar segala rasa bergejolak. Aku tak berselera. Ku ikuti langkahnya tak lagi berbekas. Dia pilihan orang tuaku. Aku sayang mereka. Aku menghormati mereka juga pilihannya. Ku baringkan tubuhku disamping tubuhnya yang beku. Ku tatap punggungnya yang kokoh, rambutnya yang legam, kakinya yang jenjang. Aku hanya berharap jadi bidadarinya kelak di surga.

 

Adzan subuh berkumandang bersama tetes hujan yang terus berjatuhan. Berkah dari langit dipagi buta. Kau masih dengan posisimu. Tapi aku telah mampu tatap kelopak yang menyimpan binarnya matamu, hidungmu yang menjulang, alismu yang menawan, bibir tipismu yang ranum, juga lekuk wajahmu laksana sungai dikedamaian. Bersama rintik hujan yang terus bertasbih, aku mengagungkan-Nya lewat ciptaan-Nya, dirimu. Dia begitu sempurna. Mencipatakanmu yang begitu mempesona. Menatap wajahmu dikala kau nyenyak, memberiku satu jingga untuk ku kelak.

 

*****

 

“Sarapan dulu.”

“Aku udah telat. Aku berangkat”.

Lebih cepat berlalu berarti lebih cepat menguapkan bau anyir yang terus buat perutku mual.

“Selamat pagi, Pak Zulfan.” Sapanya pagi ini jadi sarapan ternikmat yang pernah kurasakan.

“Pagi…” jawabku pura-pura datar.

“Bapak kusut amat pagi  ini. Nggak kayak biasanya. Tapi tetep ganteng si…. Hehe.”

Kalimatnya buatku berada dimusim semi. Meski entah berapa kali banjir dan longsor yang terjadi. “Kamu bisa aja. Aku Cuma sebel. Tadi pagi telat bangun. Jadi nggak semangat gini. Untung nggak telat.”

“Emang bidadarimu tercinta nggak bangunin kangmasnya apa?”

“Ngomong apa kamu ini. Biasanya kan yang bangunin aku senyum manismu.”

Ucapku jujur.

“Udah ah, aku masuk kelas dulu.”

 

Dia berlalu sembari menanggalkan senyum manisnya. Aku merasa nyaman tiap kali bersamanya. Dengan senyum manisnya, tatapan matanya, suara manjanya, aku telah mampu melupakan neraka. Senyumnya laksana ekstase, kian melumpuhkan aliran darah juga denyut nadiku. Andai hidup benar-benar sebuah pilihan. Takkan ku pilih neraka sebagai persinggahan. Takkan ku tengguk nanah sebagai pelepas dahaga. Juga takkan kuselami lumpur hingga buatku terjebak didalamnya. Hidup, meski telah terskenario dengan sempurna, tak jarang actor merasa lelah mengulang episode-episode yang sama. Tak bergerak. Diam ditempat.

 

Dadaku serasa terhimpit, melihat matanya terus meyipit menahan pilu lewat derai air mata yang belum jua kering. Tapi aku tetap tak bergeming. Biar elok parasnya laksana jingga di khatulistiwa, aku tetap tak terkesima.

 

Satu rasa takkan hadir berulang.

 

Aku tak merasa telah menyakiti dia yang selama ini hidup bersamaku. Aku malah telah menolongnya, dengan selama ini tetap menjaganya, meski aku harus berbagi peraduan, juga terlelap dalam kepingan kelambu yang sama.

 

Lukaku tetap menganga. Meski hati dengan isi yang sama. Dia buat mawarku berlalu. Enggan lagi menyapaku, meski rindu. Tangan lembutnya, mampu bangun benteng beton diantara kami. Dia bagaikan monster yang senantiasa meluncurkan letupan meriam kebencian. Meski ribuan masa tlah terlewati, dia takkan mampu cairkan ku yang tetap beku. Noda tetap tergores didasar keramik. Bisa yang tersimbul tetap tak terusik.

 

Hidup haruslah pilihan, karena aku akan memilih. Mawarku tetap merekah. Meski kumbang mencoba mengerah. Mawarku tetap untukku.

*****

 

“Mas, aku ijin mau kerumah Ibu. Aku pengen nginep disana barang satu atau dua hari.” Seraya bergetar mulutku mengucap kalimat itu.

“Ya. Bawa kunci. Siapa tau aku tak ada dirumah waktu kau pulang.” Jawabnya datar.

Aku berjalan menyurusi halaman surga mungil tempatku curahkan segenap jiwa, dulu. Ku cium semerbak mawar yang wangi namun tetap berduri. Ku jinjing tas tangan coklat dari kulit pemberiannya di hari ulang tahunku, dulu. Saat batu pertama baru diletakkan, jua pondasi akan tertancapkan.

“Kamu kesini, Dek. Mana mas Zulfan?”

Ibu menyambutku dengan pelukan hangat dan pertanyaan yang tak mampu ku jawab. Aku hanya tersenyum kecut menatap wajah ibuku yang lembut, dengan gurat-gurat surga.

“Kamu diet? Kenapa jadi kurus begini? Apa kamu lagi …….”

“Ah, ibu. Bukannya cantik kalau aku kurus. Kan ibu jadi tidak usah repot-repot belikanku obat diet.”

“Kamu ini. Mas Zulfan sehat? Kenapa nggak ikut kesini?”

“Dia sehat, Bu. Alhamdulillah. Banyak kerjaan jadi nggak bisa ikut kesini. Ini kan mau ujian.”

“Ooo, ya ibu kan nggak tau to kalau ini mau ujian. Orang anak ibu yang terakhir sekolah aja kamu.”

Aku hanya tersenyum.

“Ibu masak apa? Udah lama nggak makan masakan ibu jadi kangen.”

“Banyak, tenang aja. Nanti ibu masakin makanan kesukaanmu. Sekarang kamu ganti baju aja dulu sana.”

“Iya, Bu. Lia kekamar dulu.”

Pintu kamarku masih berwarna biru. Lengkap dengan tirai kerang, juga papan nama, “LIA” yang tergantung.

 

Temboknya pun masih berwarna-warni keempat sisinya. Kuning, hijau, biru, ungu, juga dengan poster-poster pemain bola idolaku. Disudut, juga masih tertempel foto-fotoku dan kawan-kawan sekolah, dulu. Ada hal yang sedikit berbeda. Kamarku lebih bersih dari waktu ku tinggalkan dulu. Tak ada lagi selimut yang menggulung bersama bantal, sprei juga boneka doraemon kesayanganku. Tak ada lagi ceceran kertas materi kuliah atau tugas-tugas juga Koran-koran bekas yang kerap ku jadikan teman hidup. Cahaya tak lagi temaram. Lantai tak lagi berdebu. Aku rindu suara ibu yang meledak melihat kamarku. Aku rindu ancaman ibu yang akan membakar kamarku jika tak kubereskan. Aku rindu secangkir kopi yang menjadi sejata ampuh ibu untuk membangunkanku.

 

“Lia. Makanannya udah siap ni.”

Suara ibu memecah lamunan yang berkobaran.

“Iya, Bu. Lia kesitu.”

“Kamu nggak lagi ada masalah kan dek. Kenapa tiba-tiba kesini?” kalimat ibu membuat nafasku tercekat. Aku tersedak

“Makannya pelan-pelan. Ini minum dulu.” Ibu mengambilkan segelas air untukku.

“Masa kerumah ibunya sendiri harus karna ada apa-apa. Ayah belum pulang ya, Bu?” Tanyaku mengalihkan topic pembicaraan kita.

“Ayahmu pulangnya sore. Katanya ada rapat. Kemarin ayahmu cerita, katanya ketemu mas Zulfan pas pertemuan. Mas Zulfan udah cerita?”

“lho, belum. Mungkin mas Zulfan lupa, Bu. Soalnya kemarin pas pulang udah capek banget.”

“Iya, Ayah aja pulangnya nyampek sore banget. Pas sebelum maghrib baru nyampek rumah.”

“Ibu, nanti malam aku tidur bersama ibu, ya… Aku kangen ibu.” Ku peluk tubuh ibu yang mulai renta. Jemari lembutnya membelai rambutku yang terurai. Desahnya lembut ditelingaku. Juga hangat tubuhnya hardik risau yang menghimpitku. Aku takkan menitikan air mata. Namun, punggungku basah. Ibu lebih dulu tersedu. Tak ada alasan lagi untukku tak berurai. Ku eratkan dekapan, ku tenggelamkan wajah ke tubuh ibu.

Nyata Jinggaku ada disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s