BENTUK-BENTUK PRAGMATIK 2

Bentuk-Bentuk Pragmatik Berdasarkan Prinsip Kerja Sama

Agar tuturan dapat dimengerti lawan tutur, maka penutur akan mempertimbangkan secara seksama berbagai aspek  yang terlibat atau mungkin terlibat dalam komunikasi tersebut. Hal inilah yang menimbulkan bentuk-bentuk pragmatik dalam prinsip kerjasama.

 

Bentuk-bentuk pragmatik yang terdapat dalam prinsip kerja sama yaitu:

  • Maksim Kuantitas

Maksim kuantitas adalah bentuk penyajian informasi atau pemberian kontribusi sesuai atau secukupnya yang dibutuhkan oleh lawan tutur. Pemberian informasi dilakukan secara efektif dan efisien, serta tidak berlebihan.

Contoh 1:

(a)    Orang buta itu tukang pijat.

(b)   Orang yang matanya tidak bisa melihat itu tukang pijat.

Kalimat (a) memenuhi maksim kuantitas, karena memberikan keterangan secukupnya saja. Sedang kalimat yang (b) melanggar maksim kuantitas karena dianggap berlebihan, dan memberikan keterangan yang berlebihan terhadap sesuatu yang sudah jelas.

Contoh 2:

(a)    Anak tetangga saya disunat kemarin.

(b)   Anak lelaki tetangga saya disunat kemarin.

Kalimat (a) sesuai dengan maksim kuantitas, sedangkan kalimat (b) tidak sesuai karena memberikan informasi yang tidak dibutuhkan. Anak yang disunat sudah pasti laki-laki.

Contoh 3:
Tuturan terjadi antara sesama mahasiswa STKIP Muhammadiyah

(a)    Bapak Muntazir masuk kelas.

(b)   Bapak Muntazir, dosen Menulis Kreatif, yang juga kajur bahasa Indonesia, masuk kelas.

Tuturan (a) lebih tepat dan efisien untuk digunakan, karena kedua mahasiswa sama-sama mengetahui siapa pak Muntazir, sehingga informasi di tuturan (b) tidak diperlukan.

  • Maksim Kualitas

Maksim kualitas adalah penyajian informasi secara benar, nyata, dan  sesuai fakta yang sebenarnya. Dengan kata lain baik penutur maupun lawan tutur tidak mengatakan apa-apa yang dianggap salah, dan setiap kontribusi percakapan hendaknya didukung oleh bukti yang memadai.

Contoh maksim kualitas:

  1. -Kamu tahu dimana Ani dirawat?

-Tahu. Di RSUD Pringsewu.

  1. Hari ini sangat panas. (Diucapkan saat matahari sedang terik)
  2. Ketua tingkat di VI C adalah Supriyono.

Maksim

Perbedaan

Persamaan

Kuantitas –     Memberi informasi sesuai yang diminta

–     Dibatasi oleh jumlah informasi

–     Tidak memberi keterangan yang berlebihan

–     Tuturan secukupnya, tidak berlebihan

Memberikan informasi yang dibutuhkan
Kualitas –       Memberi informasi yang sebenarnya

–       Dibatasi oleh kebenaran informasi

–       Dapat menambahkan keterangan sebagai bukti kebenaran

–       Tuturan dapat lebih rinci, melebihi informasi yang diminta atau dibutuhkan

 

Bentuk-Bentuk Pragmatik Berdasarkan Prinsip Praanggapan (Presuposisi)

Praanggapan (presupposition) adalah cabang dari kajian pragmatik yang berhubungan dengan adanya makna yang tersirat atau tambahan makna dari makna yang tersurat. Praanggapan merupakan anggapan awal yang secara tersirat dimiliki oleh sebuah ungkapan kebahasaan sebagai bentuk respon awal pendengar dalam menghadapi ungkapan kebahasaan tersebut.

 

Bentuk-bentuk pragmatik berdasarkan praanggapan yaitu:

  • Praanggapan semantik

Praanggapan semantik adalah praanggapan yang dapat ditarik dari pernyataan atau kalimat melalui leksikon pembentuknya.

Contoh:

–          Ayah sudah berhenti merokok.

Praanggapan  dapat yang muncul dari kalimat tersebut

(1)   Ayah  tidak merokok lagi.

(2)   Ayah selama ini adalah seorang perokok.

–          Adi tidak jadi pergi karena motornya mogok.

Praanggapan yang dapat muncul daru kalimat tersebut

(1)   Adi seharusnya pergi.

(2)   Adi memiliki sepeda motor.

 

  • Praanggapan Pragmatik

Praanggapan pragmatik adalah anggapan yang ditarik berdasarkan konteks suatu kalimat atau pernyataan itu diucapkan.

Contoh 1:

Si A bercerita: “Aku memberi uang seribu pada pengamen tadi, jadi dia cepat pergi dan tidak bernyanyi terus”

Praanggapan yang dapat timbul saat mendengar tuturan itu diantaranya:

–          Ada pengamen yang bernyanyi

–          Si A memberi uang

–          Pengamen sudah pergi

–          Si A tidak suka suara pengamen itu

–          Si A merasa terganggu oleh pengamen

Contoh 2:

Dinda bertamu ke rumah Ita. Mereka adalah teman kuliah. Dinda baru tiba dan Ita mempersilahkannya duduk.

Dinda: “Aku capek. Rumahmu jauh juga ya. Di jalan panas sekali dan banyak debu.”

Ita langsung ke dapur mengambil air minum dan menyalakan kipas angin untuk Dinda.

 

 

Praanggapan yang mungkin muncul:

(1)   Ita beranggapan Dinda ingin minta sesuatu

(2)   Ita beranggapan Dinda kehausan dan ingin minum

 

Bentuk-Bentuk Pragmatik Berdasarkan Prinsip Kesopanan

Kesopansantunan pada umumnya berkaitan dengan hubungan antara dua partisipan yang dapat disebut sebagai ‘diri sendiri’ dan ‘orang lain’, atau penutur dan lawan tutur.  Bentuk-bentuk pragmatik dalam  prinsip kesopanan menganjurkan agar kita mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari ujaran yang tidak sopan, dan hal tersebut tentu saja harus memperhatikan konteks tutur (partispan, ilokusi, waktu, tempat tuturan, dan lain-lain).

 

Bentuk-bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kesopanan yaitu:

  • Maksim Kebijaksanaan

Maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan memiliki maksud bahwa para peserta pertuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun.

Contoh:

Tuan rumah           : “Ayo diminum tehnya, cicipi juga kuenya ya.”

Tamu                     : “Ah, maaf merepotkan, Bu. Saya jadi tidak enak.”

 

  • Maksim Kedermawanan/Kemurahan Hati

Dengan Maksim kedermawanan atau maksim kemurahan hati, para peserta pertuturan diharapkan dapat menghormati orang lain. Penghormatan terhadap orang lain akan terjadi apabila orang dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain.

Contoh:

A: “Saya mau ke laundry, mau titip tidak? Kebetulan cucian cuma sedikit”

B: “Tidak, kak. Lusa saya juga mau mencuci kok”

 

 

  • Maksim Penghargaan/Penerimaan

Di dalam maksim penghargaan dijelaskan bahwa seseorang akan dapat dianggap santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain. Peserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang tidak sopan.

Contoh:

A: “Tadi saya maju presentasi pragmatik”

B: “Ya, presentasimu bagus dan jelas”

 

  • Maksim Kesederhanaan/Kerendahan Hati

Di dalam maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati jika di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri.

Contoh:

A: “Besok kau jadi moderator diskusi, ya?”

B: “Wah, semoga saya tidak grogi besok”

Tuturan B tidak akan memenuhi maksim kesederhanaan jika dia menjawab “Ah, Cuma menjadi moderator, sepele buatku”

 

  • Maksim Pemufakatan/Kecocokan

Di dalam maksim ini, diharapkan para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kemufakatan di dalam kegiatan bertutur. Apabila terdapat kemufakatan atau kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur dalam kegiatan bertutur, masing-masing dari mereka dapat dikatakan bersikap santun.

Contoh:

A: “Wah, panas sekali ya”

B: “Iya. Jendelanya dibuka yang lebar saja ya”

 

  • Maksim Kesimpatian

Di dalam maksim kesimpatian, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Jika lawan tutur mendapatkan kesuksesan atau kebahagiaan, penutur wajib memberikan ucapan selamat. Bila lawan tutur mendapat kesusahan, atau musibah penutur layak berduka, atau mengutarakan bela sungkawa sebagai tanda kesimpatian. Sikap antipati terhadap salah satu peserta tutur akan dianggap tindakan tidak santun.

Contoh:

A: “Saya akan ujian skripsi minggu depan”

B: “Wah, selamat ya. Semoga sukses!”

 

X: “ Keponakanku kecelakaan kemarin, dan meninggal dunia”

Y: “Inalillahi wainailaihirojiun, sabar ya. Aku turut berduka cita”

 

Sumber:

Tarygan. Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Penerbit Angkasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s