PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN KONSELING

Manusia dilahirkan dengan berbagai macam potensi yang dapat dikembangkan untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Potensi-potensi itu tidak mempunyai arti apa-apa bila tidak dikembangkan dengan baik. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua individu memahami potensi yang dimilikinya, apalagi pemahaman tentang cara mengembangkannya. Di dalam perjalanan hidupnya, individu juga seringkali menemui berbagai macam masalah.

Lepas dari persoalan yang satu muncul persoalan lain, demikianlah seterusnya silih berganti persoalan itu timbul. Kelihatannya tidak semua individu mampu mengatasi persoalannya sendiri. Agar mereka dapat mengenali potensi-potensi yang dimiliki, mengembangkannya secara optimal, serta menghadapi masalah yang dihadapi diperlukan bantuan atau bimbingan dari orang lain sehingga mereka dapat berbuat dengan tepat sesuai dengan potensi atau keadaan yang ada pada dirinya.

 

Prinsip-Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Prinsip-prinsip yang dimaksud ialah landasan teoritis yang mendasari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, agar layanan tersebut dapat lebih terarah dan berlangsung dengan baik. Bagi para konselor dalam melaksanakan kegiatan ini perlu sekali memperhatikan prinsip-prinsip tersebut. Berikut ini di kemukakan rumusan tentang prinsip-prinsip bimbingan yang dituangkan dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C tentang pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.

  • Prinsip-prinsip Umum

Dalam prinsip umum ini dikemukakan beberapa acuan umum yang mendasari semua kegiatan bimbingan dan konseling. Antara lain:

  1. Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, dalam pemberian layanan perlu dikaji kehidupan masa lalu klien, yang diperkirakan mempengaruhi timbulnya masalah tersebut.
  2. Perlu dikenal dan dipahami karakteristik individual dari individu yang dibimbing.
  3. Bimbingan diarahkan kepada bantuan yang diberikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya.
  4. Program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerja sama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber-sumber yang berguna di luar sekolah.
  5. Pelaksanaan program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan di sekolah bersangkutan.
  6. Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian secara teratur untuk mengetahui sampai di mana hasil dan rencana yang dirumuskan terdahulu.
  7. Prinsip-Prinsip yang Berhubungan dengan Individu yang Dibimbing
    1. Layanan bimbingan harus diberikan kepada semua siswa.
    2. Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas layanan kepada siswa tertentu.
    3. Program bimbingan harus berpusat pada siswa. Program yang disusun harus didasarkan atas kebutuhan siswa. Oleh sebab itu, sebelum penyusunan program bimbingan perlu di lakukan analisis kebutuhan siswa.
    4. Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas.
    5. Keputusan terakhir dalam proses bimbingan ditentukan oleh individu yang dibimbing. Dalam pelaksanaan bimbingan, pembimbing tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada individu yang dibimbing.
    6. Individu yang mendapat bimbingan harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri. Tujuan akhir dari kegiatan ini ialah memandirikan individu yang dibimbing (klien) dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
    7. Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Individu yang Memberikan Bimbingan
      1. Koselor di sekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya. Karena pekerjaan bimbingan merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian dan ketrampilan ketrampilan tertentu, maka pekerjaan bimbingan itu tidak dapat dilakukan oleh semua orang.
      2. Konselor harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya serta keahliannya melalui berbagai latihan penataran. Karena ilmu tentang bimbingan terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan lainnya.
      3. Konselor hendaknya selalun mempergunakan informasi yang tersedia mengenai individu yang dibimbing beserta lingkungannya, sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan ke arah penyesuaian diri  yang lebih baik.
      4. Konselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu yang dibimbingnya.
      5. Konselor hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode dan tehnik yang tepat dalam melakukan tugasnya.
      6. Konselor hendaknya memperhatikan dan mempergunakan hasil penelitian dalam bidang: minat, kemampuan, dan hasil belajar individu untuk kepentingan perkembangan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
      7. Prinsip-prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Bimbingan
        1. Bimbingan harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
        2. Dalam pelaksanaan bimbingan harus tersedia kartu pribadi (cumulative record) bagi setiap individu (siswa).
        3. Program bimbingan harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan
        4. Pembagian waktu harus diatur untuk setiap petugas secara baik.
        5. Bimbingan harus dilaksanakan dalam situasi individual dan dalam situasi kelompok, sesuai dengan masalah dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah itu.
        6. Sekolah harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga di luar sekolah yang menyelenggarakan layanan yang berhubungan dengan bimbingan dan penyuluhan pada umumnya.
        7. Kepala sekolah memegang tanggung jawab tertinggi dalam pelaksanaan bimbingan.

 

Asas-asas Bimbingan dan Konseling

Asas adalah segala hal yang harus dipenuhi dalam melaksanakan suatu kegiatan, agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik serta mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam kegiatan/layanan bimbingan dan konseling menurut Prayitno (1982) ada beberapa asas yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Asas Kerahasiaan

Asas ini memiliki makna yang sangat penting dalam layanan bimbingan dan konseling. Mungkin tidak terlalu berlebihan bilamana asas ini disebut dengan asas kunci dalam pemberian layanan tersebut. Sebagian keberhasilan layanan bimbingan banyak ditentukan oleh asas ini, sebab keberhasilan layanan ini akan mau membukakan keadaan dirinya sampai dengan masalah-masalah yang sangat pribadi, apabila ia yakin bahwa konselor dapat menyimpan rahasianya.

  • Asas Keterbukaan

Konselor harus berusaha untuk menciptakan suasana keterbukaan dalam membahas masalah yang dialami klien. Klien terbuka menyampaikan perasaan, pikiran, dan keinginannya yang diperkirakan sebagai sumber timbulnya permasalahan. Klien merasa bebas mengutarakan permasalahannya, dan konselor pun dapat menerimanya dengan baik. Konselor juga terbuka dalam memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang dikemukakan oleh klien.

  • Asas Kesukarelaan

Konselor mempunyai peran utama dalam mewujudkan asas kesukarelaan ini. Konselor harus mampu mencerminkan asas ini dalam menerima kehadiran klien. Bilamana konselor cukupnya waktu untuk berkonsultasi yang disebabkan ada acara lain;badan atau perasaan tidak enak;sedang punya masalah yang agak serius, dan sebagainya. Kondisi konselor yang demikian dapat menyebabkan asas kesukarelaan ini tidak terwujud, kalau mereka paksakan untuk melakukan konsultasi. Sebaliknya jika klien tidak mau dengan sukarela mengemukakan permasalahannya, maka konsultasi ini tidak mungkin berlangsung secara efektif.

  • Asas Kekinian

Pemecahan masalah dalam kegiatan konseling seharusnya berfokus pada masalah-masalah yang dialami oleh klien pada saat ini. Apa yang dirasakan dan dipikirkan pada saat konsultasi, itulah yang menjadi pusat perhatian dalam mencarikan pemecahannnya. Konselor jangan terperangkap dalam pembicaraan tentang masalah-masalah yang tidak lagi menjadi persoalan yang sedang dihadapi klien.

  • Asas Kegiatan

Usaha layanan bimbingan dan konseling akan dapat berlangsung baik, bilamana klien mau melaksanakan sendiri kegiatan yang telah dibahas dalam layanan itu. Oleh karena itu, konselor hendaknya mampu memotivasi klien untuk melaksanakan semua saran yang telah disampaikannya.

  • Asas Kedinamisan

Arah layanan bimbingan dan konseling yaitu terwujudnya perubahan dalam diri klien, yaitu perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik. Sesuai dengan sifat keunikan manusia maka konselor harus memberikan layanan seirama dengan perubahan-perubahan yang ada pada diri klien. Perubahan itu tidak hanya berupa pengulangan-pengulangan yang bersifat monoton, melainkan perubahan menuju pada suatu kemajuan.

  • Asas Keterpaduan

Kepribadian klien merupakan suatu kesatuan dari berbagai macam aspek. Dalam pemberian layanan kepada klien, hendaknya selalu diperhatikan aspek-aspek kepribadian klien yang diarahkan untuk mencapai keharmonisan atau keterpaduan. Bila tidak terwujud keterpaduan aspek-aspek ini justru akan menimbulkan masalah baru.

  • Asas Kenormatifan

Maksud dari asas ini ialah usaha layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan itu hendaknya tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku, sehingga tidak terjadi penolakan maupun saran-saran atau keputusan yang dibahas dalam konseling.

  • Asas Keahlian

Layanan bimbingan dan konseling adalah professional, oleh karena itu tidak mungkin dilaksanakan oleh orang-orang yang tidak dididik dan dilatih atau dipersiapkan untuk itu. Layanan konseling menuntut suatu ketrampilan khusus. Konselor harus benar-benar terlatih untuk itu, sehingga layanan tersebut benar-benar professional.

  • Asas Alih Tangan

Asas ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pemberian layanan yang tidak tepat. Konselor bukanlah tenaga yang serba bias dan serba tahu, sehingga dalam pemberian layanan ia perlu membatasi diri sesuai dengan keahliannya. Bila ditemukan masalah-masalah klien tersebut di luar bidang keahliannya, maka konselor hendaknya segera mengalihtangankan kepada ahli lain. Setiap masalah hendaknya ditangani oleh ahli yang berwenang untuk itu.

  • Asas Tut Wuri Handayani

Setelah klien mendapatkan layanan, hendaknya klien merasakan bahwa layanan tersebut tidak hanya pada saat klien mengemukakan persoalannya. Di luar layanan pun hendaknya makna bimbingan dan konseling tetap dapat dirasakan, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara konselor dengan kliennya. Klien hendaknya merasa terbantu dan merasa aman atas pemberian layanan itu. Dalam pemecahan masalah, konselor jangan dijadikan alat oleh klien tetapi klien sendirilah yang harus membuat keputusan.

 

Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling

Layanan bimbingan dan konseling perlu memiliki orientasi tertentu.  Layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada :

  • Orientasi Individual

Pada hakikatnya setiap individu itu mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Perbedaan itu dapt bersumber dari latar belakang pengalamannya, pendidikan, sifat-sifat kepribadian yang dimiliki, dan sebagainya. Perbedaan latar belakang kehidupan individu ini dapat mempengaruhi dalam cara berpikir, cara berperasaan, dan cara menganalisis ,asalah. Dalam layanan bimbingan dan konseling hal ini harus menjadi perhatian besar.

  • Orientasi Perkembangan

Masing-masing individu berada pada usia perkembangannya. Dalam setiap tahap usia perkembangan, individu yang bersangkutan hendaknya mampu mewujudkan tugas-tugas perkembangannya itu. Setiap tahap atau periode perkembangan mempunyai tugas-tugas perkembangan sendiri-sendiri yang sudah harus dicapai pada akhir tahap masa perkembangannya itu. Sebagai contoh dapat dikemukakan tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Havighhurst yang dikutip oleh Hurlock (1980) antara lain:

a)      Mampu mengadakan hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan.

b)      Dapat berperan social yang sesuai, baik perannya sebagai laki-laki atau sebagai perempuan.

c)      Menerima keadaan fisik serta dapat memanfaatkan kondisi fisiknya dengan baik.

d)     Mampu menerima tanggung jawab social dan bertingkah laku sesuai dengan tanggung jawab social.

e)      Tidak tergantung secara emosional pada orang tua atau orang dewasa lainnya.

f)       Menyiapkan diri terhadap perkawinan dan kehidupan berkeluarga.

g)      Memperoleh nilai-nilai system etis sebagai pedoman dalam bertingkah laku serta dapat mengembangkan suatu ideology.

Tugas-tugas perkembangan masa remaja menuntut adanya perubahan sikap dan pola tingkah laku yang berbeda dengan sikap dan tingkah laku pada anak-anak. Pencapaian atau perwujudan tugas-tugas perkembangan setiap tahap atau periode merupakan salah satu tolak ukur dalam mendeteksi masalah-masalah yang dihadapi klien. Penyimpangan tingkah laku dan pola piker dapat diketahui dari pencapaian tugas-tugas perkembangannya.

  • Orientasi Masalah

Layanan bimbingan dan konseling harus bertolak dari masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Konselor hendaknya tidak terperangkap dalam masalah-masalah lain yang tidak dikeluhkan oleh klien. Bilamana klien menyampaikan informasi atau berbicara tentang masalah yang tidak ada kaitannya dengan kesulitan yang sedang dikonsultasikan, maka konselor harus membawanya kembali kepada masalah yang sedang dihadapi.

 

Kode Etik Bimbingan dan Konseling

Untuk menyatukan pandangan tentang kode etik jabatan. Berikut ini dikemukakan suatu rumusan dari Winkle (1992): “Kode etik jabatan ialah pola ketentuan/aturan/tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi.”

Sehubungan dengan itu, Bimo Walgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik bimbingan dan konseling sebagai berikut:

1)      Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan penyuluhan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.

2)      Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. Karena itu, pembimbing jangan sampai mencampuri yang bukan wewenangnya.

3)      Oleh karena pekerjaan pembimbing langsung berkaitan dengan kehidupan pribadi orang seperti telah dikemukakan maka seorang pembimbing harus:

a)      Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.

b)      Menunjukkan sikap hormat kepada klien.

c)      Menunjukkan penghargaaan yang sama kepada bermacam-macam klien. Pembimbing harus memperlakukan klien dengan derajat yang sama.

d)     Pembimbing tidak diperkenankan:

(1)   Menggunakan tenaga-tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih.

(2)   Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan.

(3)   Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien.

(4)   Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien tersebut.

e)      Meminta bantuan ahli dalam bidang lain di luar kemampuan atau di luar keahliannya ataupun di luar keahlian stafnya yang diperlukan dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

f)       Pembimbing harus selalu menyadari akan tanggung jawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian penuh.

 

Di samping urusan tersebut, pada kesempatan ini dikemukakan rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dirumuskan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia, yang dikutip oleh Syahril dan Riska Ahmad (1986), yaitu:

a)      Pembimbing/konselor menghormati harkat pribadi, integritas, dan keyakinan klien.

b)      Pembimbing/konselor menempatkan kepentingan klien diatas kepentingan pribadi.

c)      Pembimbing/konselor tidak membedakan klien atas dasar suku bangsa, warna kulit, kepercayaan atau status social ekonominya.

d)     Pembimbing/konselor dapat menguasai dirinya dalam arti kata berusaha untuk mengerti kekurangan-kekurangannya dan prasangka-prasangka yang ada pada dirinya yang dapat mengakibatkan rendahnya mutu layanan yang akan diberikan serta merugikan klien.

e)      Pembimbing/konselor mempunyai serta memperlihatkan sifat rendah hati, sederhana, sabar, tertib, dan percaya pada paham hidup sehat.

f)       Pembimbing/konselor terbuka terhadap saran atau pandangan yang diberikan padanya.

g)      Pembimbing/konselor memiliki sifat tanggung jawab, baik terhadap lembaga dan orang-orang yang dilayani maupun terhadap profesinya.

h)      Pembimbing/konselor mengusahakan mutu kerjanya setinggi mungkin.

i)        Pembimbing/konselor menguasai pengetahuan dasar yang memadai tentang hakikat dan tingkah laku orang, serta tentang teknik dan prosedur layanan bimbingan dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan dengan sabaik-baiknya.

j)        Seluruh catatan tentang diri klien ,erupakan informasi yang bersifat rahasia, dan pembimbing menjaga kerahasiaan ini.

k)      Sesuatu tes hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.

l)        Testing psikologi baru boleh diberikan dalam penanganan kasus dan keperluan lain yang membutuhkan data tentang sifat atau diri kepribadian seperti taraf inteligensi, minat, bakat, dan kecenderungan dalam diri pribadi seseorang.

m)    Data hasil tes psikologis harus diintegrasikan dengan informasi lainnya yang diperoleh dari sumber lain, serta harus diperlakukan aetaraf dengan informasi lainnya.

n)      Konselor memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alas an digunakannya tes psikologi dan hubungannya dengan masalah yang dihadapi klien.

o)      Hasil tes psikologi harus diberitahukan kepada klien dengan disertai alasan-alasan tentang kegiatannya dan hasil tersebut dapat diberitahukan kepada pihak lain, sejauh pihak yang diberitahu itu tidak ada hubungannya dengan usaha bantuan pada klien dan tidak merugikan klien sendiri.

One thought on “PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN KONSELING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s