LOGIKA: ANALISIS & DEFINISI

A.    Analisis atau Pembagian

Dasar untuk sanggup berpikir atau bernalar yang baik perlu juga menjalankan prinsip analisis atau pembagian. Analisis merupakan proses mengurai sesuatu hal menjadi berbagai unsur yang terpisah untuk memahami sifat, hubungan dan peranan masing-masing unsur. Tujuan analisis di antaranya adalah untuk mendapatkan makna terbaru dari hal atau konsep yang sama, yang selanjutnya dapat dikuasai konsep-konsep atau pengertian-pengertian kemudian diungkapkan dalam bentuk-bentuk term. Konsep dan term inilah sebenarnya yang sebagai unsur dalam penalaran. Analisis atau pembagian akan diuraikan secara terperinci beserta hukum-hukumnya untuk sebagai landasan penalaran.

1.      Pengertian Analisis

Analisis secara umum sering juga disebut dengan pembagian. Dalam logika, analisis atau pembagian berarti pemecahbelahan atau penguraian secara jelas berbeda ke bagian-bagian dari suatu keseluruhan. Untuk lebih seksama dapat juga mengadakan subbagian, yakni menguraikan atau memecah belah dari suatu bagian sampai ke unsur dasarnya. Dengan dasar batasan arti tersebut maka yang dapat dianalisis atau diuraikan adalah sesuatu keseluruhan, jika betul-betul tunggal tidak dapat diuraikan ke bagian-bagiannya.

Bagian dan keseluruhan selalu berhubungan. Suatu keseluruhan adalah terdiri atas bagian-bagian, oleh karena itu dapat dipecah-belahkan dan diuraikan. Bagian yang merupakan hal-hal yang menyusun suatu keseluruhan maka keseluruhan dapat dibagi-bagi. Sebelum membahas tentang analisis perlu juga dijelaskan terlebih dahulu tentang keseluruhan.

Keseluruhan pada umumnya dibedakan antara keseluruhan logik dan keseluruhan realis. Keseluruhan logik atas dasar konsepnya, sedang keseluruhan realis atas dasar materinya, misal istilah “manusia” dapat dari segi konsep dan dapat juga dari segi orangnya. Keseluruhan logik adalah keseluruhan yang dapat menjadi predikat masing-masing bagiannya, misal:”tumbuh-tumbuhan” sebagai suatu keseluruhan, dan “mangga”, “durian”, “pepaya” sebagai bagian-bagiannya, sehingga dapat dinyatakan mangga adalah tumbuh-tumbuhan, durian adalah tumbuhan-tumbuhan dan pepaya adalah tumbuh-tumbuhan. Demikian juga manusia sebagi suatu konsep yang terdiri atas pelbagai bangsa dapat digunakan predikat masing-masing bangsa tersebut, misal: bangsa Indonesia adalah manusia, bangsa Israel adalah manusia, bangsa Arab adalah manusia. Keseluruhan realis adalah keseluruhan yang tidak dapat dijadikan predikat masing-masing bagiannya, misal “rumah” sebagai suatu keseluruhan, dan “kamar” sebagai bagiannya, maka tidak dapat dinyatakan bahwa kamar adalah rumah. Dalam penggunaan biasa yang dimaksudkan dengan suatu keseluruhan adalah keseluruhan realis, sedangkan keseluruhan logik adalah suatu konsep universal, dan bagian-bagiannya adalah hal-hal yang tercakup di dalamnya.

2.      Macam-Macam Analisis

Jika keseluruhan dapat dibedakan antara keseluruhan logik dan keseluruhan realis, maka analisis atau pembagian dibedakan juga atas dua kelompok: analisis logik yaitu penguraian atas dasar konsepnya, dan analisis realis yaitu penguraian atas dasar bendanya.

a)      Analisis logik

Analisis logik adalah pemecahbelahan sesuatu ke bagian-bagian yang membentuk keseluruhan atas dasar prinsip tertentu. Pemecah belahan ini menjelaskan keseluruhan atau himpunan yang membentuk term sehingga mudah dibeda-bedakan. Analisis logik dibedakan atas dua macam, analisis universal dan analisis dikotomi.

(1)   Analisis universal merupakan pemerincian atau penguraian suatu genus dibagi ke dalam semua spesiesnya, atau juga dirumuskan pemecah-belahan term umum ke term-term khusus yang menyusunnya. Analisis universal untuk hal-hal yang kompleks susunannya, analisis universal mungkin tidak tepat, bahkan untuk hal-hal yang tidak dapat semua diketahui, analisis universal tidak dapat diterapkan karena mungkin ada sesuatu bagiannya yang belum dapat diketahui.

(2) Analisis dikotomi merupakan pemecah-belahan sesuatu dibedakan menjadi dua kelompok yang saling terpisah, yang satu merupakan term positif dan yang lain term negatif. Analisis dikotomi ini didasarkan atas hukum logika “prinsip eksklusi tertii”, yakni prinsip penyisihan jalan tengah. Analisis dikotomi harus menentukan suatu diferensia yang dipilih berbentuk term positif dan kebalikannya membentuk term negatif. Contoh analisis sebagaimana berlaku di Indonesia tentang pembagian ilmu yang pada umumnya dibedakan atas dua macam, yaitu ilmu dibedakan atas eksakta dan non eksakta. Term eksakta adalah term positif dan term non eksakta adalah term negatif.

Contoh analisis dikotomi sebagaimana dikemukakan oleh Phorphyry dalam karyanya Isagoge tentang klasifikasi alam semesta yakni dari summum genus berupa substansi ke infirma spesies yaitu manusia, atau juga dari term yang paling umum ke term yang paling khusus yang menyusunnya. Metode analisis dikotomi ini sederhana dan lengkap di samping itu juga tegas, adapun kekurangannya ialah bahwa bagian yang negatif dari dikotomi itu mungkin tidak beranggota (kosong) dan seandainya mempunyai anggota juga tidak dapat diperoleh keterangan mengenai anggota-anggota tersebut, karena anggota-anggota itu tidak dapat dibagi-bagi lebih lanjut.

 

GFGH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b)      Analisis realis

Analisis realis yaitu pemecah-belahan berdasarkan atas susunan benda yang merupakan kesatuan atau atas dasar sifat perwujudan bendanya. Analisis realis dibedakan menjadi dua macam, analisis esensial dan analisis aksidental.

(1)   Analisis esensial merupakan pemecah-belahan sesuatu hal ke unsur dasar yang menyusunnya.

(2)   Analisis aksidential merupakan pemecah-belahan sesuatu hal berdasarkan sifat-sifat yang menyertai perwujudannya.

 

3.      Hukum-Hukum Analisis

Dalam analisis ada aturan-aturan tertentu yang menjadi petunjuk untuk mengadakan analisis secara ideal supaya hasilnya tidak menimbulkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan.

a)      Analisis atau pembagian harus berjalan menurut sebuah asas tunggal, yakni harus megikuti prinsip atau sudut pandangan sama. Sesuatu asas dapat dipilih sehubungan dengan maksud tujuan analisis, tetapi apabila sekali telah dipilih maka hendaknya jangan diubah selama proses analisis berlangsung.

b)      Analisis atau pembagian harus lengkap dan tuntas, yakni spesies-spesies yang merupakan bagian-bagian penyusunnya bila dijumlahkan harus sama dengan genusnya.

c)      Analisis atau pembagian harus jelas terpisah antar bagiannya, yakni spesies-spesies penyusun genus terpisah yang satu dengan yang lain. Prinsip ini jelas jika dilanggar akibatnya ialah bahwa spesies-spesies itu.

B.     Klasifikasi atau Penggolongan

Dasar untuk menalar yang baik di samping menjalankan prinsip analisis sering juga diadakan klasifikasi, yang keduanya berhubungan. Analisis merupakan proses mengurai sesuatu hal menjadi pelbagai unsur yang terpisah untuk memahami sifat, hubungan, dan peranan masing-masing unsur, sedang klasifikasi merupakan proses pengelompokkan sifat, hubungan, maupun peranan masing-masing unsur yang terpisah dalam suatu keseluruhan untuk memahami sesuatu konsep universal. Dengan dua prinsip ini selanjutnya dapat dikuasai konsep-konsep atau pengertian-pengertian kemudian diungkapkan dalam bentuk-bentuk term sebagai unsur dasar penalaran.

1.      Pengertian Klasifikasi

Klasifikasi merupakan kebalikan dari analisis, sehingga sering dinyatakan bahwa kedua hal itu saling berhubungan yang hubungannya dikatakan berbalikan. Analisis atau pembagian dimulai dari suatu keseluruhan melalui proses yang logik bergerak menurun ke dalam unsur-unsur yang semakin lama semakin kecil sampai tercapainya unsur yang terendah atau terdasar, maka kebalikannya yang bergerak ke arah yang berlawanan disebut klasifikasi atau penggolongan, yakni dari barang-barang, kejadian-kejadian, fakta-fakta atau proses-proses alam kodrat individual yang beraneka ragam coraknya, menuju ke arah keseluruhan yang sistematik dan bersifat umum (dimiliki bersama) sampai tercapainya genus tertinggi. Analisis atau pembagian lebih erat hubungannya dengan proses yang semata-mata bersifat formal dalam mengikuti prinsip-prinsip tertentu, sedang klasifikasi atau penggolongan lebih bersifat empirik serta induktif.

Analisis dan klasifikasi keduanya berhubungan erat sekali dengan definisi, yakni dalam hal bahwa pemahaman yang jelas tentang arti sebuah istilah atau juga term sangat diperlukan untuk mengetahui apakah sesuatu objek tertentu itu masuk ke dalam istilah tersebut atau di luar. Di samping itu untuk mengetahui apakah barang sesuatu itu, merupakan sifat hakiki definisi atau bukan sifat hakikat definisi, atau juga berarti dapat menggolong-golongkan barang sesuatu itu secara sistematik dalam hubungannya dengan objek-objek yang lain yang tidak termasuk yang dimaksudkan oleh definisi.

2.      Macam-Macam Klasifikasi

Dalam mengadakan pembedaan macam-macam klasifikasi atau penggologan yang menjadi pedoman adalah sifat bahan-bahan yang akan digolong-golongkan dan maksud yang dikandung oleh orang yang mengadakan penggolongan. Kedua segi itu dapat dipakai untuk mengadakan pembedaan yang biasanya dinamakan klasifikasi kodrati dan klasifikasi buatan, dan juga klasifikasi gabungan antara keduanya yang disebut dengan klasifikasi perantara atau klasifikasi diagnostik.

a)      Klasifikasi kodrati, yang ditentukan oleh susunan kodrati, sifat-sifat dan atribut-atribut yang dapat ditentukan dari bahan-bahan yang tengah diselidiki.

b)      Klasifikasi buatan, yang ditentukan oleh sesuatu maksud yang praktis dari seseorang, seperti untuk mempermudah penanganannya dan untuk menghemat waktu serta tenaga.

c)      Klasifikasi diagnostik, merupakan gabungan yang tidak sepenuhnya kodrati dan juga tidak sepenuhnya buatan, yang corakya mungkin dapat dijumpai dalam suatu bidang yang baru atau yang untuk sebagian berkembang seperti ilmu-ilmu sosial. Klasifikasi ini disebut juga klasifikasi perantara.

Pembedaan klasifikasi diterapkan pada peristiwa-peristiwa dapat diuraikan sebagai berikut. Jika yang menjadi pedoman klasifikasi adalah maksud untuk mempermudah pekerjaan, maka klasifikasinya bersifat buatan.

3.      Hukum-Hukum Klasifikasi

Klasifikasi atau penggolongan yang merupakan kebalikan analisis atau pembagian menurut  Herbert L. Searles hukum-hukumnya sama dengan hukum-hkum pembagian, namun macam-macam klasifikasi berbeda dengan macam-macam analisis. Tiga hukum yang mengatur analisis secara logik dapat diterapkan pada klasifikasi, meskipun hukum-hukum itu tidak dapat diikuti dengan begitu tegar. Hukum-hukum klasifikasi atau penggolongan yang sama intinya dengan hukum-hukum analisis dapat ditentukan sebagai berikut:

a)      Klasifikasi atau penggolongan harus hanya ada satu asas tertentu. Dengan menaati hukum bahwa harus hanya ada satu asas berarti dapat terjamin diperolehnya susunan yang logik dan menghindari terdapatnya klasifikasi bersilang, atau klasifikasi simpang-siur antara kelompok satu dengan kelompok lain.

b)      Suatu klasifikasi atau penggolongan harus sampai tuntas dan jelas. Hukum bahwa klasifikasi harus sampai tuntas dan jelas merupakan harapan yang hanya untuk sebagaian dapat dipenuhi dalam bidang yang bertambah luas seperti ilmu-ilmu sosial atau di dalam ilmu yang dinamik seperti biologi, botanik, zoologi. Klasifikasi yang tidak lengkap baru merupakan suatu kekurangan yang gawat bila ilmunya telah mejadi sistematik serta saling behubungan dan hukum-hukum yang mengatur proses evolusi telah diketahui.

c)      Unsur-unsur sebagai sebagian untuk mneyusun konsep universal harus jelas terpisah satu dengan yang lain. Hukum yang menyatakan bahwa unsur-unsur yang merupakan bagian untuk menyusun konsep universal harus terpisah yang satu dengan yang lain dalam suatu klasifikasi atau penggolongan merupakan suatu harapan yang hanya akan dapat dicapai sejauh sifat-sifat unsur atau spesies dan berhubungan dengan itu anggota-anggota pelbagai spesies itu telah diketahui.

C.    Definisi atau Penjelasan

Setelah mempelajari cara mengadakan analisis beserta klasifikasi, maka perlu dipelajari juga tentang definisi yang merupakan satu rangkaian pembahasan untuk menentukan batas-batas pengertian yang dimaksudkan.

Dalam analisis dijelaskan tentang proses merinci sebuah genus, pengertian umum, atau golongan menjadi bagian-bagian yang secara logik menyusunnya sampai mencapai spesies terendah. Dan proses ini berjalan lebih lanjut ketika bagiannya itu sebagai spesies yang diketahui perbedaannya sebagai bawahan sebuah genus, dan diketahui memiliki diferensia yang khusus dipunyai oleh spesies-spesies tersebut. Hal ini pada hakikatnya adalah sama dengan definisi, karena untuk mengetahui apakah  sesuatu golongan objek itu termasuk atau tidak termasuk dalam suatu subbagian tertentu maka hakikatnya harus diketahui, maksudnya harus didefinisikan atau dirumuskan batas-batasnya.

Definisi juga merupakan unsur atau bagian dari ilmu pengetahuan yang merumuskan dengan singkat dan tepat mengenai objek atau masalah. Definisi sangat penting bagi seseorang yang menginginkan sanggup berpikir dengan baik, membuat definisi terlebih dahulu bukanlah hal yang memperpanjang persoalan tetapi justru membuktikan pendidikan seseorang bahwa ia tahu kerangka masalahnya. Definisi berasal  dari kata Latin definire yang berarti menandai batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti jadi “definisi” dapat diartikan sebagai penjelasan apa yang dimaksudkan oleh sesuatu term, atau dengan kata lain definisi adalah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang arti suatu term.

Pernyataan yang memuat penjelsan arti atau definisi harus terdiri atas dua bagian dan dua bagian ini harus ada jika tidak bukanlah suatu definisi, yaitu:

Bagian pangkal yang disebut dengan “definiendum” yang berisi istilah yang harus diberi penjelasan atau hal yang didefinisikan, dan bagian pembatas disebut dengan “definiens” yang berisi uraian mengenai arti dari pangkal atau hal yang untuk mendefinisikan.

Definisi atau batasan arti banyak macam-macamnya, yang disesuaikan dengan pelbagai langkah, lingkungan, sifat, dan tujuannya. Secara garis besar definisi dibedakan atas tiga macam yakni definisi nominalis, definisi realis, dan definisi praktis.

1.      Definisi Nominalis

Definisi nominalis adalah penjelasan sebuah istilah dengan kata lain yang lebih umum dimengerti. Jadi sekedar menjelaskan istilah sebagai tanda, bukan menjelaskan hal yang ditandai, misal nirwana adalah surga. Definisi nominalis terutama dipakai pada permulaan sesuatu pembicaraan, diskusi, perdebatan, dengan maksud menunjukkan apa yang menjadi pokok pembicaraan, diskusi, perdebatan. Definisi nominalis ada enam macam:

(1)   Definisi sinonim, yakni penjelasan dengan memberikan persamaan kata atau memberikan penjelasan dengan kata yang lebih mudah dimengerti. Definisi ini paling singkat dan yang digunakan dalam kamus.

(2)   Definisi simbolik, yakni penjelasan dengan cara memberikan persamaan pernyataan berbentuk simbol-simbol. Definisi ini banyak digunakan dalam bidang matematika termasuk juga logika untuk memberikan penjelasan secara simbolik, misal:

(P ==> Q) <==> – (P ˄ – Q)  jika p maka q, didefinisikan non (p dan  non q)

( A   B) <==>  ∀  x (x  A ==> x  B)  A bagian dari B, didefinisikan untuk semua x jika x anggota A maka x anggota B

(3)   Definisi etimologik, yakni penjelsan dengan cara memberikan asal-mula istilahnya.

(4)   Definisi semantik, yakni penjelasan suatu tanda dengan arti atau makna yang telah terkenal, misal:

Tanda     berarti  : maka, atau jadi

Tanda =>  berarti  : jika….. maka….

Tanda ó  berarti  : bila dan hanya bila, jika hanya……maka……

(5)   Definisi stipulatif, yakni penjelasan dengan cara pemberian nama atas dasar kesepakatan bersama.

(6)   Definisi denotatif, yakni penjelasan istilah dengan cara menunjukkan atau memberi contoh benda atau hal yag termasuk dalam cakupan istilah tersebut. Definisi denotatif ini ada dua macam yakni:

–       Definisi ostentif, yakni memberi batasan sesuatu istilah dengan memberikan contoh.

–       Definisi enumeratif, yakni memberi batasan sesuatu istilah dengan memberikan perincian satu demi satu secara lengkap mengenai hal-hal yang termasuk dalam cakupan istilah tersebut.

Definisi denotatif ini lebih khusus serta lebih konkret berguna dalam corak pemberitaan elementer, namun dalam hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan serta uraian yang teknis definisi ini kurang berguna.

Syarat-syarat definisi nominalis yang perlu diperhatikkan ialah:

a)    Apabila sesuatu kata hanya mempunyai sesuatu arti tertentu, hal ini harus selalu dipegang, demikian juga kata-kata yang sangat biasa diketahui umum, hendaknya dipakai juga menurut arti dan pengertiannya yang sangat biasa.

b)   Jangan menggunakan kata untuk mendefinisikan jika tidak tahu artinya secara tepat dan terumus dengan jelas. Bilamana muncul keragu-raguan mengenai sesuatu istilah  harus diberi terlebih dahulu definisinya dengan teliti dan hati-hati.

c)    Apabila arti dan pengertian sesuatu istilah menjadi suatu objek pembicaraan, definisi nominalis atau definisi taraf pertamanya harus sedemikian rupa sehingga dapat secara tetap diakui oleh kedua pihak yang berdebat.

2.      Definisi Realis

Definisi realis ialah penjelasan tentang hal yang ditandai oleh sesuatu istilah. Jadi bukan sekedar menjelaskan istilah, tetapi menjelaskan isi yang dikandung oleh sesuatu istilah. Definisi realis banyak digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan serta hal-hal yang bersifat teknis. Definisi realis ada dua macam:

a)      Definisi esensial, yakni penjelasan dengan cara menguraikan bagian-bagian dasar yang menyusun sesuatu hal. Bagian-bagian ini antara satu dengan yang lain dapat dibedakan secara nyata atau hanya beda dalam akal pikiran. Oleh karena itu definisi esensial dapat dibedakan antara definisi analitik dan definisi konotatif.

–       Definisi analitik, yakni penjelasan dengan cara menunjukkan bagian-bagian sesuatu benda yang mewujudkan esensinya. Definisi ini disebut juga definisi esensial fisik, karena dengan cara analisis fisik.

–       Definisi konotatif, yakni penjelasan dengan cara menunjukkan isi dari suatu term yang terdiri atas genus dan diferensia, definisi ini disebut juga definisi esensial metafisik, yakni memberikan jawaban yang terdasar dengan menunjukkan predikabel substansinya. Definisi konotatif dicapai dengan melalui tiga langkah:

  • Memperbandingkan hal yang hendak didefinisikan dengan semua hal lain.
  • Menunjukkan jenis atau golongan yang memuat hal tersebut.
  • Menunjukkan ciri-ciri yang membedakan hal tersebut dari semua hal lain yang termasuk golongan yang sama.

b)      Definisi deskriptif, yakni penjelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki oleh hal yang didefinisikan. Sifat-sifat ini khusus pada halnya yang dapat membedakan hal-hal lain yang terdapat dalam golongan yang sama. Definisi ini dibedakan atas dua macam:

–       Definisi aksidental, yakni penjelasan dengan cara menunjukkan jenis dari halnya dengan sifat-sifat khusus yang menyertai hal tersebut atau dengan cara menunjukkan genus dan propiumnya.

–       Definisi kausal, yakni penjelasan dengan cara menyatakan bagaimana sesuatu hal yang terjadi atau terwujud. Hal ini berarti juga memaparkan asal mula atau perkembangan dari hal-hal yang ditunjuk oleh suatu term. Definisi ini juga disebut definisi genetik.

3.      Definisi Praktis

Definisi praktis adalah penjelsan tentang sesuatu hal ditinjau dari segi kegunaan atau tujuan. Definisi praktis dapat juga dinyatakan gabungan antara definisi nominalis dan definisi realis, namun tidak dapat dimasukkan dalam salah satu di antara keduanya. Definisi praktis ini ada tiga macam, definisi operasional, definisi fungsional, dan definisi persuasif.

a)      Definisi operasional, yakni penjelasan suatu term dengan cara menegaskan langkah-langkah pengujian khusus yang harus dilaksanakan atau dengan metode pengukuran serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat diamati. Sistem ini ada dua macam:

–       Operasional kualitatif: berdasarkan isi dan kekuatan hal yang diamati.

–       Operasional kuantitatif: berdasarkan banyak atau jumlah hal yang diamati.

b)      Definisi fungsional, yakni penjelasan suatu hal dengan cara menunjukkan kegunaan atau tujuannya.

c)      Definisi persuasif, yakni penjelasan dengan cara merumuskan suatu pernyataan yang dapat mempengaruhi orang lain.

4.      Syarat-Syarat Definisi

Dalam merumuskan definisi ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan supaya definisi yang dirumuskan itu baik dan betul-betul mengungkapkan pengertian yang didefinisikan secara jelas dan mudah dimengerti. Syarat-syarat akan dikemukakan di sini merupakan syarat secara umum berlaku untuk semua definisi terutama sekali definisi realis, di samping itu juga ada syarat khusus untuk definisi nominalis.

Perlu diperhatikan di sini, tidak semua hal dapat didefinisikan karena akal manusia terbatas, sejauh akal manusia dapat memikirkan hal tersebut dapat didefinisikan, tetapi jika akal manusia tidak mampu memikirkannya maka hal tersebut tidak dapat didefinisikan. Di samping itu dapat juga satu hal didefinisikan dengan cara bermacam-macam, namun definisi yang tepat dan jelas pada dasarnya hanya satu, halini juga tergantung masalahnya, mana bentuk definisi yang paling tepat untuk hal tersebut.

Syarat-syarat definisi secara umum dan sederhana ada lima syarat, namun ada juga yang merumuskan lebih dari lima, yang sebenarnya  hanya merupakan penjelasan berikutnya. Syarat-syarat tersebut atau sering juga disebut dengan hukum-hukum definisi merupakan persyaratan untuk menyusun definisi yang tepat dan baik, jika dilanggar maka definisinya tidak dapat memberi penjelasan yang baik.

(1)   Sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari apa yang didefinisikannya, yakni menunjukkan pengertian umum yang meliputinya beserta ciri pembedanya yang pokok. Syarat ini penting dalam definisi ilmiah.

(2)   Sebuah definisi harus merupakan suatu kesetaraan arti hal yang didefinisikannya dengan yang untuk mendefinisikan, maksudnya tidak terlampau luas dan tidak terlampau sempit. Syarat ini melahirkan dua anak syarat:

–       Definiens tidak lebih luas dari apa yang didefinisikan, oleh karena itu harus mengeluarkan setiap yang tidak termasuk ke dalam lingkungan yang didefinisikan atau eksklusif.

–       Definiens tidak lebih sempit dari apa yang didefinisikan, oleh karena itu harus menarik ke dalam lingkungan pengertian setiap diri yang termasuk didefinisikan atau terlampau sempit, inklusif.

(3)   Sebuah definisi harus menghindarkan pernyataan yang memuat istilah yang didefinisikan, artinya definisi tidak boleh berputar-putar memuat secara langsung atau tidak langsung subjek yang didefinisikan, atau tidak mengulang istilah yang didefinisikan.

(4)   Sebuah definisi sedapat mungkin harus dinyatakan dalam  bentuk rumusan yang positif, yakni tidak boleh dinyatakan secara negatif jika dapat dinyatakan dalam kalimat positif, karena membuat definisi adalah untuk mengatakan apakah barang sesuatu itu,  bukannya untuk mengatakan bukan apakah sesuatu itu.

(5)   Sebuah definisi harus dinyatakan secara singkat dan jelas terlepas dari rumusan yang kabur atau bahasa kiasan, karena maksud membuat definisi ialah memberi penjelasan serta menghilangkan perwayuh-artian (makna ganda) maka dengan dipakainya istilah-istilah yang kabur dapat menghalangi maksud tersebut.

2 thoughts on “LOGIKA: ANALISIS & DEFINISI

  1. ini baru mantap bro>>
    kelihatan bahwa yang menulis punya landasan yang kokoh dan landasannyapun itu bisa leluasa bergerak kemana hendak digunakan.
    seperti marinir yang mencarikan tempat untuk infanteri ke wilayah musuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s