MORFOLOGI

 

Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk struktur kata serta pengaruh perubahan-perubahan struktur kata terhadap kelas kata dan arti kata.

Afiks dan kelas kata dalam bahasa Indonesia mempunyai peranan dalam pembentukan suatu kalimat. Hal tersebut penting dipelajari karena pemahaman terhadap afiks dan kelas kata dapat mendatangkan banyak manfaat.

Pemahaman terhadap kelas kata dan kemampuan mengenali kelas kata sangat penting dalam pembentukan kalimat. Sebelumnya kita harus mengetahui pengertian kata dan kelas kata.

KATA

Pada umumnya, para tatabahasawan menentukan satuan kata berdasarkan tiga ukuran, yaitu kata sebagai satuan fonologis, kata sebagai satuan gramatis dan kata sebagai satuan arti. Batasan yang paling banyak dikenal dalam buku-buku linguistik adalah kata merupakan bentuk yang memilki susunan fonologis stabil yang tidak berubah. Susunan fonologis stabil yang tidak berubah adalah setiap kata mempunyai tatasusun fonem yang tetap urutannya dan tidak bisa diubah atau diselang dengan komponen atau fonem lain.

Pengertian “kata” dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta yaitu “kathã” yang berarti konversasi, bahasa atau cerita.(Wikipedia.org.ensiklopediabebas.2011).

KBBI (1997) memberikan definisi kata sebagai berikut :

—Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.
—Konversasi atau bahasa.
—Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan dalam bentuk yang bebas.
—Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri.

Ramlan (1996) mengatakan bahwa kata merupakan dua macam satuan, yaitu satuan fonologis dan satuan gramatis. Alisyahbana (1978) mengatakan bahwa kata adalah kesatuan kumpulan fonem atau huruf yang terkecil yang mengandung pengertian.

Bloomfield (1996) mengatakan bahwa kata adalah minimal free form , yaitu sebagai suatu bentuk yang dapat diujarkan tersendiri dan bermakna, tetapi bentuk tersebut tidak dapat dipisahkan atas bagian-bagian yang satu diantaranya.

Parera (1994) mengatakan bahwa :

—Kata mendapat tempat yang penting dalam analisis bahasa. Kata adalah satu kesatuan sintaksis dalam tutur atau kalimat.
—Kata dapat merupakan kesatuan penuh dan komplit dalam ujar sebuah bahasa kecuali partikel.
—Kata dapat tersendirikan, yang berarti kata dapat dipisahkan dari yang lain dan juga dapat dipindahkan.
—

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kata adalah bentuk bebas terkecil yang mempunyai kesatuan fonologis dan kesatuan gramatis yang mengandung suatu pengertian.

KELAS KATA

Kelas kata adalah perangkat kata yang sedikit banyak berperilaku sintaksis sama. Subkelas kata adalah bagian dari suatu perangkat kata yang berperilaku sintaksis sama. Kategorisasi gramatikal tidak hanya berlaku bagi kata melainkan juga pada kelas frase, klausa, dan seterusnya. Kategorisasi terhadap tataran yang lebih tinggi tersebut merupakan kelanjutan dari kategorisasi terhadap kata.

Dalam penentuan kelas kata, konsep yang sangat penting adalah konsep perilaku sintaksis. Perilaku sintaksis mencakup :

  1. Posisi satuan gramatikal yang mungkin atau nyata dalam satuan yang lebih besar.
  2. Kemungkinan satuan gramatikal didampingi atau tidak didampingi oleh satuan lain dalam konstruksi.
  3. Kemungkinan satuan gramatikal disubstitusikan dengan satuan lain.
  4. Fungsi sintaksis seperti subjek, predikat, dan sebagainya.
  5. Paradigma sintaksis.
  6. Infleksi

Menurut Hasan Alwi, dkk. (1998) bahwa dalam ilmu bahasa, kata dikelompokkan berdasarkan bentuk serta perilakunya. Kata yang mempunyai bentuk serta perilaku yang sama atau mirip, dimasukkan dalam satu kelompok. Di sisi lain, kata yang bentuk dan perilakunya sama atau mirip dengan sesamanya, tetapi berbeda dengan kelompok yang pertama dimasukkan ke kelompok yang lain. Kata dapat dibedakan berdasarkan kategori sintaksisnya. Kategori sintaksis sering pula disebut kategori atau kelas kata. Oleh karena itu, analisis kalimat berdasarkan kategori merupakan penentuan kelas kata yang menjadi unsur-unsur kalimat tersebut.

KATA BENDA (NOMINA)
  • Tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan pertikel tidak.
  • Mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari (Kridalaksana, 1994).
  • Kata benda mencakup pronomina dan numeralia. Kata benda dapat dilihat dari tiga segi yaitu segi semantis, segi sintaksis, dan segi bentuk.

Berdasarkan segi semantis, kata benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda dan konsep atau pengertian. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyi ciri-ciri tertentu yaitu :

Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap dapat diikuti oleh kata itu atau dapat didahului oleh kata bilangan. ( Alwi, 1998)
Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya adalah bukan.

Contoh : saya bukan mahasiswa

Nomina umumnya dapat diikuti ajektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.

Contoh : Rumah baru atau rumah yang baru

Mobil mewah atau mobil yang mewah.

 KATA KERJA (VERBA)

Kata kerja atau Verba adalah kata yang menyatakan tindakan. Secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas yang lain karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  •   Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat dalam kalimat. Contoh : pencuri itu  lari.
  •   Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
  • Verba, khususnya yang bermakna keadaan (seperti mati, suka), tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’.
  • Pada umumnya, verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yng menyatakan kesangatan.

KATA SIFAT (ADJEKTIVA)

Kata sifat ( ajektiva) adalah kata yang memberi keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. (Alwi,1998). Ajektiva ditandai oleh kemungkinannya untuk :

  • —Bergabung dengan partikel tidak
  • —Didampingi nomina
  • —Didampingi partikel
—Mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er dalam honorer, -if dalam sensitif, dan –i dalam alami.
—Dibentuk manjadi nomina dengan konfiks ke-an (dalam keadilan atau keyakinan). (Kridalaksana,1994)

KATA KETERANGAN (ADVERBIA)

Kata keterangan atau adverbia adalah kategori yang mendampingi ajektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis (Kridalaksana,1994). Kata keterangan dapat diketahui dari segi perilaku semantisnya, perilaku sintaksisnya, dan bentuknya. (Alwi,1998)

Berdasarkan perilaku semantisnya, adverbia dapat dibedakan menjadi delapan bagian yaitu :
ØAdverbia kualitatif, yang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Contoh : paling, sangat, lebih, dan kurang.
ØAdverbia kuantitatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan jumlah. Contoh : banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.
ØAdverbia limitatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan pembatasan contoh : hanya, saja, dan sekedar.
ØAdverbia frekuentatif, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang brhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu. Contoh : selalu, jarang, dan kadang-kadang.
ØAdverbia kewaktuan, yaitu adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbia tersebut. Contoh : baru dan segera.
ØAdverbia kecaraan, yaitu adeverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiwa yang diterangkan oleh adverbia tersebut terjadi. Contoh : diam-diam, secepatnya, dan pelan-pelan.
ØAdverbia konstratif, yaitu adverbia yang menggambarkan pertentangn dengan makna kata atau hal yang dinyatakan sebelumnya. Contoh : bahkan, malahan, dan justru.
ØAdverbia keniscayaan, adalah adverbia yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan atau terjadinya hal atau peristiwa yang diterangkan oleh adverbia tersebut. Contoh : niscaya, pasti, dan tentu.

KATA TUGAS

Kata tugas hanya memiliki arti granmatikal dan tidak memiliki arti leksikal. Arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara lepas, melainkan oleh kaitannya dengan kata lain dalam frase atau kalimat. Hampir semua kata tugas tidak dapat menjadi dasar untuk membentuk kata lain. Kelas kata tugas merupakan kelas kata tertutup.

Berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat, kata tugas dibagi menjadi lima kelompok, yaitu :

—Preposisi
—Konjungtor
—Interjeksi
—Artikula
—Partikel penegas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s