PUISI

Genre atau jenis sastra ada tiga; puisi, prosa dan drama. Puisi sebagai salah satu jenis sastra adalah inti pernyataan sastra. Di dalam puisi terhimpun dan mengental segala unsur yang menentukan hakikat kesusastraan. Menurut sejarahnya, pernyataan sastra pada semua bangsa dimulai dari puisi, bahkan pada permulaannya, satu-satunya pernyataan sastra yang dianggap kesusastraan adalah puisi.

 

Puisi itu karya seni, dan sebagai karya seni puisi itu puitis. Seorang penyair mempergunakan banyak cara untuk mencapai kepuitisan tersebut. Untuk mencapai kepuitisan itu penyair menggunakan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa; dan orkestrasi: dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, dan sebagainya. Untuk mendapat jaringan puitis yang sebanyak-banyaknya tak jarang seorang penyair menggunakan berbagai sarana kepuitisan secara bersamaan.

 

Pembelajaran Bahasa Indonesia, pada kajian puisi khususnya memerlukan daya apresiasi tersendiri dalam menangkap dan memahami maknanya. Puisi sebagai salah satu karya sastra banyak menggunakan bahasa kias, yang memberikan kendala tersendiri bagi para pembaca untuk mendapatkan dan memahami maknanya.

 

Apresiasi puisi diperlukan untuk dapat menangkap makna sebuah puisi secara utuh. Untuk hal itu, diperlukan teknik pemahaman dalam memahami struktur dalam maupun struktur luar puisi  secara  efektif.

 

Kemampuan memahami puisi mempunyai arti yang sangat penting bagi pembaca, yakni sebagai sarana untuk meningkatkan nilai-nilai sosial, nilai estetika, nilai kemasyarakatan, dan sebagainya. Oleh karena itu diperlukan sikap apresiatif, bimbingan terhadap pemahaman puisi harus lebih didahulukan daripada pengetahuan tentang puisi, sehingga mempunyai sikap yang positif  dan timbul penghargaan terhadap karya sastra.

 

Memahami puisi tidaklah mudah. Di dalam puisi ada konsentrasi unsur pembentuk sastra. Oleh karena itu, sulit bagi kita untuk memahami puisi secara sepenuhnya bila tidak kita ketahui dan kita sadari bahwa puisi adalah karya estetik yang bermakna.

 

Menurut Tinjanov dalam Djojosuroto puisi adalah konstruksi bahasa yang dinamis. Pengertian dinamis menunjukkan puisi itu bukan sesuatu yang terisolasi atau fakta yang statis, melainkan bagian dari tradisi dan proses komunikasi. Komunikasi yang dilakukan dalam puisi tidak dilakukan secara langsung. Hal ini disebabkan penyair meyampaikan pikiran-pikirannya lewat sebuah teks bernama puisi dengan estetikanya dan pembaca sebagai pemberi makna.

 

Bahasa puisi bersifat konotatif. Konotasi yang dihasilkan bahasa puisi lebih banyak kemungkinannya daripada konotasi yang dihasilkan bahasa prosa dan drama. Oleh sebab itu, puisi sulit ditafsirkan maknanya secara tepat tanpa memahami konteks yang dihadirkan dalam puisi. Puisi diciptakan  penyair dalam suasana perasaan, pemikiran, dan cita rasa yang khas sehingga bersifat khas pula.

 

Menurut Riffatere dalam Pradopo bahwa puisi itu menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Ketidaklangsungan ucapan ini disebabkan oleh tiga hal: penggantian arti(displacing), penyimpangan arti (distorting), dan penciptaan arti (creating of meaning).

Karena puisi merupakan struktur yang kompleks, tersusun dari bemacam-macam unsur dan sarana kepuitisan, maka untuk memahaminya secara penuh perlu dianalisis. Ada berbagai cara dalam menganalisis puisi. Ada analisis dari segi bentuk dan ada pula analisis dari segi isinya. Namun demikian, ”analisis yang bersifat dikotomis, yaitu pembagian antara bentuk dan isi belumlah memberi gambaran yang nyata dan tidak memuaskan”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s