PENEGASAN DALAM KALIMAT

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu.

Yang dimaksud dengan penegasan dalam kalimat adalah upaya pemberian aksentuasi, pementingan atau pemusatan perhatian pada salah satu unsur atau bagian kalimat agar unsur atau bagian kalimat itu lebih mendapat perhatian dari pendengar atau pembaca.

Penegasan ini dapat dilakukan antara lain, dengan:

  1. Intonasi
  2. Partikel
  3. Kata keterangan
  4. Kontras makna
  5. Pemindahan unsur
  6. Bentuk pasif

Urutan unsur dalam kalimat yang normal adalah : subjek + predikat +  objek + keterangan.

A.  Penegasan dengan Intonasi

Penegasan dengan intonasi hanya dapat dilakukan dalam bahasa lisan. Caranya adalah dengan memberi tekanan yang lebih keras kepada salah satu unsur atau bagian kalimat yang ingin ditegaskan. Perhatikan contoh berikut :

–          Ayah membaca Koran di teras rumah

–          Ayah membaca Koran di teras rumah

–          Ayah membaca Koran di teras rumah

–          Ayah membaca Koran di teras rumah

Kalau tekanan diberikan pada kata ayah maka kalimat tersebut berarti ‘yang membaca Koran adalah ayah, bukan orang lain’, kalau tekana diberikan pada kata membaca maka kalimat tersebut berarti ‘yang dilakukan ayah diteras rumah adalah membaca’, bukan pekerjaan lain’, kalau tekanan diberikan pada kata Koran maka kalimat itu berarti ‘yang dibaca ayah adalah Koran bukan bacaan lain, dan kalau tekana diberikan pada kata diteras rumah maka kalimat tersebut berarti ‘tempat ayah membca adalah di teras rumah, bukan di tempat yang lain.

 

B.  Penegasan dengan partikel

Partikel penegasan yang ada dalam bahasa Indonesia adalah: yang, lah – yang, dan pun – lah. Aturan penggunaannya adalah sebagai berikut:

Partikel yang ditempatkan diantara subjek dan predikat dalam kalimat verbal atau kalimat ajektival.

Contoh:

  • Dia yang mengambil bukumu

(maknanya lebih tegas dari kalimat “ dia mengambil bukumu”)

  • Kami yang dicurigai

(maknanya lebih tegas dari kalimat “ kami dicurigai “).

Partikel lah- yang digunakan di antara subjek dan predikat pada sebuah kalimat verbal atau kalimat ajektival. Partikel lah- yang ini lebih tegas maknanya daripada partikel yang seperti yang dibicarakan di atas.

Contoh:

  • Dialah yang mengambil bukumu
  • Kamilah yang dicurigai

Struktur kalimat dengan partikel yang atau lah ini biasanya diikuti oleh anak kalimat penjelas yang diawali oleh kata bukan. Misalnya:

  • Dia yang mengambil buku mu, bukan saya
  • Kamilah yang dicurigai, bukan mereka

Partikel pun – lah digunakan pun di antara subjek dan predikat, sedangkan –lah dirangkaikan pada predikat yang berupa kata kerja intrasitif.

Contoh :

  • Dia pun keluarlah dari persembunyiannya.
  • Kami pun berangkatlah dengan segera.

C.  Penegasan dengan Kata Keterangan

Keterangan penegasan yang lazim digunakan untuk memberi penegasan adalah kata memang. Kata memang ini dapat memberi penegasan pada predikat dan dapat pula pada subjek.

Contoh :

  • Memang dia belum tahu.
  • Dia memang tidak mendengar seruanku.

Penegasan kalimat dengan kata keterangan penegasa masih dapat pula lebih ditegaskan lagi dengan partikel penegas.

Misalnya:

  • Memang dialah yang belum tahu (sedangkan kami semua sudah tahu)
  • Dia memang tidak mendengar seruanku (sedangkan kami semua sudah mendengar)

Pemberian keterangan penegasan ini dapat pula dilakukan dalam bentuk anak kalimat yang diawali dengan kata penghubung seperti, apalagi, lagipula, bahkan, dan lebih-lebih lagi.

Contoh :

  • Mencari pekerjaan dijakarta tidak semudah yang kamu banyangkan apalagi kalau kami tidak punya koneksi.
  • Lebih baik uang ini kita pakai dulu untuk membeli beras daripada untuk membayar langganan listrik, lagipula sekarang baru tanggal sepuluh.

D.    Penegasan dengan kontras makna

Penegasan dengan kontras makna dilakukan terhadap kalimat mejemuk setara. Makna klausa pertama. Makna klausa pertama dari kalimat tersebut menjadi terasa lebih tegas karena dikontraskan atau dipertentangkan dengan makna pada klausa kedua.

Contoh :

  • Nurmala berurai air mata pada saat orang bergembira ria.
  • Dia dengan mudah mendapatkan uang seratus ribu sehari, kita mencari seribu rupiah saja sulit.

E.     Penegasan dengan pemindahan unsur

Yang dimaksud dengan pemindahan unsur adalah memindahkan unsur atau bagian kalimat ke posisi awal kalimat.

Seperti sudah dibicarakan di muka urutan unsur dalam kalimat yang “normal” adalah: subjek + predikat + objek + keterangan. Apabila unsur yang bukan subjek ingin ditegaskan, atau lebih ditonjolkan, maka unsur tersebut harus ditempatkan pada posisi awal kalimat. Pemindahan tentu akan mengubah pola intonasi dan dapat mengubah struktur kalimat secara keseluruhan.

1.      Pemindahan Predikat

Kalau tekanan sebuah kalimat ingin diberikan kepada unsur predikat maka unsure predikat itu harus ditempatkan pada awal kalimat. Namun pemindahan unsur predikat ini tidak begitu saja dapat dilakukan, melainkan harus diperhatikan dulu jenis kata yang menduduki unsure predikat itu.

Kalau redikatnya berupa kata kerja intransitive maka pemindahan itu dapat dilakukan.

Contoh :

  • Berangkat kami pagi-pagi sekali.
  • Keluar mereka dari persembunyiannya.

Dalam hal ini untuk lebih menegaskan harus pula disertai dengan partikel       –lah. Misalnya:

  • Berangkatlah kami pagi-pagi sekali.
  • Keluarlah mereka dari persembunyiannya.

Kalau predikatnya berupa kata kerja transitif, maka predikat beserta objeknya harus dipindahkan sekaligus, dan bila ingin diberi partikel –lah partikel itu harus dirangkaikan di belakang objek tersebut.

Contoh :

  • Mengisi teka-teki silanglah saya untuk mengisi waktu pada saat menunggu kedatangan mereka.

Kalau predikatnya berupa kata sifat atau frase sifat, maka predikat ini hanya dipindahkan ke posisi awal kalau subjeknya bersifat khas atau tertentu.

Contoh :

  • Gemuk orang itu.
  • Tinggi sekali gunung itu.

Predikat seperti terdapat dalam kalimat “gunung tinggi” atau “orang gemuk” tidak dapat dipindahkan ke posisi awal kalimat sebab subjeknya tidak bersifat khas. Jadi, susunan :

  • *tinggi gunung
  • Gemuk orang

Tidak dapat diterima.

  1. Kalau predikatnya berupa kata benda, maka predikatnya dapat dipindahkan keposisi awal kalau subjeknya bersifat khas atau tertentu.

Contoh :

  • Pegawai negeri ayahku

(kalimat asal “ ayahku pegawai negeri”)

  • Dokter bedah orang itu

(kalimat asal “orang itu dokter bedah”)

Kalau subjeknya tidak bersifat khas atau tertentu, seperti dalam kalimat “anjing binatang” dan “becak kendaraan umum”, maka predikatnya tidak dapat dipindahkan ke posisi awal, sebab kalimat berikut tidak dapat diterima.

  • *binatang anjing
  • *kendaraan umum becak
  1. Kalau predikatnya berupa kata bilangan atau frase bilangan, maka predikat itu dapat dipindahkan ke posisi awal.

Contoh :

  • seribu rupiah hutangku

(kalimat asal “hutangku seribu rupiah”)

  • lima orang adiknya

(kalimat asal “ adiknya lima orang”

  1. kalau predikatnya berupa frase depan, maka predikat itu tidak dapat dipindahkan ke posisi awal.

Contoh :

  •  *ke pasar ayahnya

(kalimat asal “ayahnya ke pasar”)

Mengingat bahwa kalimat dengan predikat berupa frase depan tidak dianjurkan pemakaiannya dalam bahasa baku, maka sebenarnya masalah pemindahan predikat dalam kalimat seperti ini tidak perlu dibicarakan lagi.

2.      Pemindahan objek

Objek sebuah kalimat aktif intrasitif tidak dapat dipindahkan ke posisi awal kalimat, karena objek tersebut terikat erat dengan predikatnya. Jika objek pada kalimat transitif itu ingin tetap ditegaskan dengan menempatkannya pada awal kalimat, maka bentuk kalimat pasif.

Objek yang secara eksplisi, dan dengan bantuan kata depan oleh, disebutkan di dalam sebuah kalimat pasif, dapat dipindahkan ke posisi awal kalimat.

Contoh :

  • Oleh orang tuanya dia tidak diizinkan untuk belajar karate.

3.      Pemindahan keterangan

Semua macam unsur keterangan dapat dipindahkan ke posisi awal kallimat

Contoh : tadi pagi beliau tidak mengajar

Unsur keterangan yang berupa klausa terikat dalam sebuah kalimat bertingkat dapat juga dipindahkan ke posisi awal.

Contoh :

  • Ketika kami sedang bercakap-cakap, dia dating.

(kalimat asal “dia dating ketika kami sedang bercakap-cakap”)

F.     Penegasan dengan bentuk pasif.

Penegasan dalam bentuk kalimat pasif dibentuk dengan maksud untuk lebih menegaskan peranan objek penderita. Objek dalam sebuah kalimat aktif transitif, tidak dapat dipindahkan ke posisi awal kalimat karena kedudukan nya erat sekali dengan predikat. oleh karena itu, bila peranan objek ingin lebih maka ditegaskan maka bentuk kalimanyalah yang harus diubah dari bentuk kalimat aktif menjadi bentuk kalimat pasif. Dengan demikian peranan “penderita” dari objek tersebut dapat tetap dipertahankan, walaupun kini fungsinya berubah menjadi subjek, tetapi peranannya tetap sebagai penderita.

Contoh :

  • Komik dibaca kakek.

( kalimat asalnya “ kakek membaca komik”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s