Pengertian, Fungsi, & Macam-Macam Sumber Belajar

Hakikat Belajar

Belajar merupakan proses manusia utuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan, dan sikap. Belajar dimulai sejak lahir sampai akhir hayat. Pada waktu bayi menguasai keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol dan mengenal orang-orang disekelilingnya.

Ketika menginjak masa kanak-kanak dan remaja, sejumlah sikap, nilai dan keterampilan berinteraksi sosial dicapai sebagai kompetensi. Pada saat dewasa, individu diharapkan telah mahir dengan tugas-tugas kerja tertentu mengendarai mobil, berwiraswasta, dan menjalin kerja sama dengan oranglain. Kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedkan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Bagi individu untuk belajar terus menerus akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kualitas hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat belajar mempunyai peran yang penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi.


Pengertian Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia secara etimologis belajar memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan utuk mencapai kepandaian atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dimiliki sebelumnya. Sehingga dengan belajar manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dapat melaksanakan dan memiliki tentang sesuatu (Fudyartanto, 2002).

Menurut H. C. Witheringthon, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian.

James O. Whittaker mengemukakan belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkahlaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dalam kesimpulan yang dikemukakan Abdillah (2002), belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkahlaku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu.

Jika kita simpulkan dari sejumlah pandangan dan definisi tentang belajar (Wragg, 1994), kita menemukan beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut:

a. Belajar merupakan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja
b. Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya
c. Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkahlaku

Dalam pengertian yang umum dan sederhana, belajar seringkali diartikan sebagai aktivitas memperoleh pengetahuan. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Kemampuan orang belajar menjadi ciri penting yang membedakan jenisnya dari jenis-jenis makhluk yang lain. dalam konteks ini seseorang dikatakan belajar bilamana terjadi perubahan, dan sebelumnya tidak mengetahui sesuatu menjadi mengetahui. Pengetahuan tersebut dipersepsikan diperoleh dari guru. Keadaan ini pada gilirannya memposisikan guru sebagai orang yang serba tahu tentang sesuatu. Guru seolah-olah sumber segala macam pengetahuan dan tanpa guru tidak ada kegiatan yang disebut belajar.


Ciri-ciri belajar

Dari beberapa definisi para ahli diatas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri belajar, yaitu:
a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku
b. Perubahan perilaku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah
c. Perubahan tingkahlaku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung
d. Perubahan tingkahlaku merupakan hasil latihan atau pengalaman
e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan.

Prinsip-Prinsip Belajar

Di dalam tugas melaksanakan proses belajar mengajar, seorang guru perlu memperhatikan beberapa prinsip belajar berikut (Soekamto dan Winataputra, 1997):
a. Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan oranglain. Untuk itu siswalah yang bertindk aktif
b. Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya
c. Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguat langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar
d. Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti
e. Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila ia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya.

Sumber Pengetahuan Tentang Belajar

Mengenai informasi tentang belajar dapat dikenali adanya beberapa sumber, yaitu:
a. Kearifan tradisi
Yang tercakup dalam kearifan tradisi adalah peribahasa atau maksim yang sering berasal dari pengalaman yang luas. Suatu contoh maksim yaitu “Spare the rod and spoil the child”, (jangan memanjakan anak). Namun, syarat-syarat bagi keberhasilan pelaksananya itu tidak jelas. Contoh di atas mengandung arti bahwa disiplin penting bagi pengasuhan anak; tetapi seberapa jauh, betapa keras, dan apa sebetulnya disiplin itu tidaklah diketahui benar.

Hilgard(1964, hlm. 404) mencatat bahwa ada beberapa kalangan yang membela pendapat bahwa mengajar itu suatu kiat. Karena itu, lebih banyak yang dapat dipelajari dari guru-guru yang baik ketimbang dari penelitian atau psikologi. Dengan kata lain, praktik mengajar yang baik merupakan suatu “kearifan tradisi” yang dapat mengajar oranglain. Tentu saja, banyak yang dipelajari dari guru-guru yang terampil. Namun, mengabaikan kemungkinan memperbaiki pengajaran melalui penelitian yang dirancang seksama itu seperti halnya “ mengembalikan praktek medis ke tabib zaman pra ilmiah sebab kita masih menghargai nasihat-nasihat penyembuh yang bijaksana” (Hilgard, 1964 hlm. 404).

b. Filsafat
Filsafat merupakan kepercayaan yang tersusun berdasarkan pertimbangan nalar dan mantik. Filsafat memberikan penjelasan yang ajeg tentang hakikat kenyataan, kebenaran, kebajikan dan keindahan. Demikianlah filasfat ialah seperangkat koheren dari nilai-nilai yang memberikan suatu kerangka guna memahami hubungan antara bangsa manusia dan alam semesta.

Di samping itu beberapa filsafat mengembangkan pengetahuan tentang peranan orang dalam masyarakat, bekerjanya fikiran, dan hakikat pengetahuan. Lebih jauh, isu mengenai sumber pengetahuan manusia memberikan pengaruh di belakang hari pada pembicaraan tentang kecerdasan manusia yang dilakukan oleh para ahli psikologis. Menurut pandangan Plato mengenai belajar yaitu idealisme, melukiskan fikiran dan jiwa sebagai hal yang dasar sifatnya bagi segala sesuatu yang ada. Menurut idealisme, kenyataan hanyalah ide murni yang ada dalam fikiran. Karena itu, pengetahuan orang berasal dari ide yang ada sejak kelahirannya. Sejalan dengan pandangan ini belajar dilukiskan sebagai pengembangan oleh fikiran idea yang bersifat keturunan tersebut. Ini dicapai melalui “mata fikiran” dengan jalan menghadapkan fikiran ke dalam. Plato menyarankan studi matematika dan bahasa klasik untuk mengembangkan fikiran itu. Kepercayaan ini kemudian dikenal sebagai konsep “disiplin mental”.

Di dalam pandangan Plato, pengetahuan itu bersifat bakat dan pembawaan dari lahir. Tetapi pandangan yang berlawanan muncul dari Arisoteles, murid Plato. Aristoteles percaya bahwa keadaan itu ada di dunia nyata, tidak dikonsepsi fikiran. Hukum semesta atau idea yang dibawa sejak lahir. Idea itu berhubungan dengan hasil pengalaman dari lapangan. Sumber pengetahuan manusia ialah lingkungan alam dan belajar itu terjadi melalui kontak dengan lingkungan. Menurut Aristoteles, peranan fikiran ialah mengorganisasikan dan menstrukur pengalaman-pengalaman indera dari luar.

Kemudian dua ahli filsuf menyempurnakan konsep-konsep yang diperkenalkan oleh Plato dan Aristoteles tersebut. Rene Descrates, seorang ahli matematika dan filsuf abad ke tujuh belas, mengembangkan lebih lanjut konsep pengetahuan bawaan. Beliau berpendapat bahwa orang mengembangkan pengetahuan melalui penalaran deduktif dari ide dasar yang sedikit. Model pengetahuan dasar yang disusunnya bersifat tematik, yang merupakan system hasil dedukasi dari aksioma-aksioma dasar yang sdikit, karena moden Descrates itu mengandalkan proses berfikir rasional maka pahamnya dinamakan orang rasionalisme.

Bertentangan dengan itu, ide Aristoteles dijadikan dasar bagi filsafat yang lahir di Inggris, yang disebut empirisme. Mula-mula empirisme diperkenalkan oleh Thomas Hobbes dalam abd ke tujuh belas, kemudian dikembangkan secara formal oleh filsuf Jhon Locke. Menurut Jhon Locke pada waktu lahir fikiran orang itu merupakan tabula rasa atau kertas kosong. Ide yang dikatakan merupakan balok penysun fikiran, berkembang melalui dua macam pengalaman, yaitu:

Kesadaran, sensation, yang diartikan sebagai hasil memperoleh pengetahuan melalui indera
Refleksi, yang digambarkan sebagai proses menggabung-gabungkan ide-ide yang sederhana menjadi kompleks.

Hal yang menarik dari paham emprisme ialah bahwa paham ini memperhitungkan proses mental yang tinggi sementara mempercayai pengalaman sebagai sumber pengetahuan (Boring, 1950).

Pandangan yang dikembangkan Descrates dan kaum empirisme Inggris tersebut mempeluas ide yan mula-mula diajukan oleh Plato dan Aristoteles. Namun sama halnya dengan idealism dan realism, merelka masing-masing menghasilkan konsepsi tentang belajar yang sepotong-potong, artinya belajar dapat terjadi dengan cara yang lain dari bidang study ajaran bahasa klasik atau pengalaman indera, seperti mengamati terbitnya matahari.

c. Penelitian Empirik
Sumber informasi yang agak berbeda tentang hal belajar adalah penelitian emprik. Ini mencakup eksperimen objek-objek dan gejala-gejala dalam dunia fisik. Galileo yang disebut bapak metode ilmiah, merintis ekperimental menggunakan benda nyata. Dalam satu eksperimen, ia menghitung waktu turunnya benda yang jatuh dari puncak menara mendapati bahwa satu pon buku jatuh ke bumi dengan kecepatan yang sama seperti jatuhnya satu pon timbal. Percobaannya itu menyangkal kepercayaan intuitif bahwa satu pon timbal akan jatuh lebih cepat daripada sekarung bulu yan beratnya sama.

Kesulitan dengan penggunaan penelitian empiric sebaai satu-satunya sumber pengetahuan ialah bahwa studi-studi yang dilakukan itu idak dengan sendirinya memajukan pengetahuan kita tentang fenomena-fenomena yang penting. Sebagai contoh Suppes (1974) melukiskan masa dalam penelitian pendidikan yang disebut “zaman keenam empirisme”. Masa ini dasawarsa 1920-an, disifatkan oleh penggunaan kuesioner survey, dan penyelidikan-penyelidikan mengenai hampir setiap segi kehidupan sekolah. Namun pengumpulan data yang luas ini tidak memberika sumbangan ada pemahaman kita tentang proses dasar belajar dan pembelajaran.

d. Teori
Sumber pengetahuan yang keempat ialah teori. Kalau didefinisikan secara singkat, teori ialah seperangkat asaa yang tersusun tenan kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Satu ciri teori yang penting ialah bahwa teori itu “ membebaskan penemuan penelitian secara individual dari kenyataan kesementaraan waktu dan tempat untuk digantikan dengan suatu dunia yang lebih luas (McKeachie, 1976, hlm. 829).

Secara khusus, teori memberikan dua kelebihan daripada sumber-sumber pengetahuan yang lainnya. Keuntungannya yaitu:
• Bahwa asa itu, tidak seperti halnya masim, dapat diuji. Eksperimen data dilakukan untuk menentukan apakah asas itu cocok pada kenyataannya. Suatu contoh asas ialah latihan yang disertai dengan balikan korektif pada performasi memperlancar belajar menguasai keterampilan motoric. Satu cara menguji asas ini ialah dengan membandingkan performansi siswa-siswa yang diajar dengan cara lain.
• Bahwa tidak seperti hasil pengamatan yang terlepas-lepas, teori mengandung generalisasi tentang gejala-gejala dan dengan demikian dapat dihubungkan pada beberapa keadaan. Penyataan di atas tentang hubungan antara belajar keterampilan motoric dan latihan dengan balikan merupakan generalisasi yang berlaku bagi keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti berdiri menyeimbangkan badan pada palang kayu, dan bagi keterampilan-keterampilan yang sederhana, seperti bermain tenis atau main anggar.

Fungsi Teori Belajar

Menurut Patrick Suppes (1974), ada empat fungsi umum teori. Fungsi ini juga berlaku bagi teori belajar. Dua fungsi yang telah disebut ialah bahwa teori
• Berguna sebagai kerangka kerja unutuk melakukan penelitian
Pentingnya teori sebagai kerangka kerja untuk penelitian ialah untuk mencegah praktik-praktik pengumpulan data yang tidak memberikan sumbangan bai pemahaman peristiwa. Empirisme yang polos, menurut Suppes (1974, hlm. 6) merupakan suatu bentuk coretan mental dan ketelanjangan tubuh jauh lebih menarik daripada ketelanjangan fikiran.

• Memberikan suatu kerangka kerja untuk melakukan penelitian
Fungsi kedua teori ialah bahwa teori memberikan suatu kerangka kerja bagi pengorganisasian butir-butir tertentu informasi. Tentu saja semua teori belajar waktu ini memenuhi fungsi ini. Satu contoh ialah perangkat kondisi belajar yang dikembangkan oleh Robert Gagne (1970). Penelitian sebelumnya mengenai unsur-unsur belajar telah menunjukkan bahwa beberapa tugas dipelajari bila orang telah membentuk asosiasi antara rangsangan yang disajikan dan tanggapan tertentu. Tetapi, studi-studi yang lain menunjukkan bahwa belajar terjadi bila si belajar pertama mengenal situasi rangsangan dan kemudian menerapkan siasat tertentu yang cocok untuk situasi tersebut.

Pandangan teoritik yang dirumuskan Gagne memberikan sintesa dari penemuan-penemuan yang bertetangan ini. Ia mengajukan pandangan bahwa ada lebih dari satu macam belajar. Belajar mengenal hruf-huruf abjad merupakan suatu amcam belajar yang memerlukan pembentukan asosiasi antara setiap huruf dan respon mental atau respon verbal siswa. Sebaliknya belajar memecahkan soal persamaan aljabar adalah jenis belajar yang lain. belajar ememcahkan soal menuntut siswa untuk mengenal situasi yang disajikan dan menerapkan beberapa pengerjaan soal secarabenar dan dengan urutan yang benar pula. Jenis belajar yang terdahulu disebut informasi verbal, sedangkan belajar yang kemudian dinamakan keterampilan intelek (Gagne, 1970).

• Mengungkapkan kekompleksan peristiwa-peristiwa yang terlihat sederhana
Fungsi umum yang ketiga adalah bahwa teori sering mengungkapkan seluk beluk dan kerumitan peristiwa-peristiwa yang tampaknya sederhana. Suatu contoh yang khusus ialah hakikat danjenis-jenis factor-faktor yang berpengaruh terhadap belajar dari model (Bandura, 1971). Untuk sebagian besar kejadian, dahulu penjelasan yang diberikan terbatas pada segi menirunya saja. Artinya pelajar menirukan model dan diganjar karena tingkahlakunya itu. Namun teori belajar sosial dan Bandura
 Mengenali situasi waktu pengamat mempertunjukan tingkahlaku hasil model berhari-hari dan berminggu-minggu
 Mengenali kondisi belajar untuk gejala ini. Kejadian yang relative sederhana, yaitu imitasi, ternyata kompleks ihwalnya dan mempunyai implikasi bagi belajar dan pembelajaran.

Secara lebih umu, pemeriksaan terhadap teori-teori yang ada pada waktu itu menunjukkan adanya bermacam-macam factor yang berpengaruh pada apa yang dulu dikira sebagai proses agak sderhana yaitu belajar. Di dalam kelas, taraf perkembangan siswa, sifat hakikat tugas yang dipelajari, model yang diamati siswa, kemampuan siswa untuk menerima, dan menyimpan apa yangdipelajari di dalam ingatan dan persepsi siswa akan apa yang dikerjakan dari sudut keberhasilan dan kegagalan, semuanya merupakan pengaruh yang penting.

• Mengorganisasikan kembali pengalaman-pengalaman sebelumnya
Fungsi teori yang keempat dan yang ada kaitannya ialah bahwa teori mengorganisasikan pengalaman sebelumnya. Suatu contoh dalam fisika yang mengorganisasikan kepercayaan yang intiutif ialah hukum kelembaman yaitu suatu benda akan terus dalam arah geraknya sampai ada kekuatan luar yang bekerja pada benda itu. Tetapi, kepercayaan yang sudah diterima secara umum yang berasal ari Aristoteles justru sebaliknya. Analisanya menjelaskan suatu benda dalam keadaan gerak hanya jika benda itu dikenai oleh suatu kekuatan. Demikianlah ditemukan hukum kelembaman mengehendaki perlu disusunya kembali kepercayaan akal sehat.
Fungsi menyusun kembali kepercayaan-kepercayaan lama khususnya penting berkenaan dengan belajar di kelas. Belajar seperti ini terjadi didalam suatu konteks sosial. Kadang variable yang semula kecil saja pengaruhnya dalam dasawarsa dekat yang lewat dapat menjadi factor yang penting dalam pengelolaan belajar. Misalnya dalam awal-awal abad ke dua puluh banyak siswa tidak meneruskan pendidikan yang lebih tinggi dari sekolah dasar. Pengaruh persepsi siswa akan keberhasilan dan kegagalan akademiknya yang menjadi perhatian besar bagi system pendidikan. Pada waktu itu banyak dari populasi siswa berbakat yang tersaring sendiri keluar adri system masuk ke dunia kerja. tetapi pada waktu ini para siswa diharapkan mengambil mata ajaran akademik dalam latar struktur pendidikan yang formal selama 10 sampai 12 tahun masa formatif mereka. Kepercayaan siswa-siswa menegnai keberhasilan dan kegagalannya berpengaruh pada belajarnya. Isu ini dikemukakan oleh teori motivasi Bernand Weiner, yang disebut teori atribusi.

Penerapan yang wajar untuk teori ialah bahwa teori itu berguna sebagai model kerja untuk fenomena tertentu sampai diperlukannya teori baru. Pada waktu informasi baru ditemukan dan pertanyaan baru diajukan, teori yang terdahulu memberi jalan untuk tampilnya hubungan-hubungan, yang batasnyna telah dirumuskan kembali, dan generalisasi-generalisasi baru. Karena itu pada suatu waktu, suatu generalisasi mungkin dapat memberikan system tertentu secara damai, akan tetapi di belakang hari generalisasi tersebut kenbenarannya tinggal belaka sebagai sejarah (Cronboach, 1975).

Diarahkannya kembali atau digantinya teori bukanlah hal yang khas dalam psikologis. Contoh yang disebutkan di atas fisika klasik, tidak mencukupi untuk memberikan secara tepat aksi gaya fisik dalam alam semesta. Dalam fisika klasik, waktu diperlukan sebagai suatu konstanta. Dengan temuan teori relativitas oleh Enstein yan menyatakan waktu itu variable yang nisbi sifatnya, maka fisika klasik menjadi kasus khusus dari teori itu. Fisika klasik cukup akurat untuk aktivitas-aktivitas di planet kita dan mencukupi bagi suatu peradaban yang sedang mengalami revolusi industry. Nmaun dalam perjalanan antapalnet memerlukan teori yang lebih tepat mengenai waktu dan gerak.

Demikian juga halnya, teori belajar Edrward Thorndike mencukupi untuk menjelaskan belajar di sekolah pada waktu menghafal dan resitasi menduduki bagian terbesar kegiatan sehari-hari di sekolah. Tetapi, dalam kehidupan mas kini banyak peristiwa-peristiwa dan kegiatan belajar terjadi di luar latar sekolah melalui media televise dan film. Teori belajar sosial Alber Bandura ditujukan bagi menjelaskan mekanisme psikolog yang ada di balik fenomena belajar yang khusus ini.

Daftar Pustaka

Beil Gredler, Margaret. 1994. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Aunurrahman, Dr. M. Pd. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Baharudin, H. Drs. M. Pd. I. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

.

.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s